oleh

Keluhkan Pemasaran dan Impikan Miniatur Seni, Frans Go Tawarkan TIM Jakarta

Kupang, RNC – Kehadiran calon gubernur NTT, Ir. Fransiscus Go, SH, atau karib disapa Frans Go, di Kampung Raja Prailiu, Kabupaten Sumba Timur, Rabu (16/1/2024), membawa harapan baru bagi para penenun di kampung itu. Pasalnya, selama ini mereka mengeluhkan produksi kain tenun ikat, sulit dipasarkan. Kalaupun ada kegiatan promo, sifatnya isidentil saja. Karenanya, para penenun di Kampung Raja Prailiu berharap, ada miniatur seni yang bisa dijadikan tempat promosi tenun ikat yang mereka hasilkan. Wacana itu mengemuka ketika Frans Go berdialog dengan warga Kampung Raja Prailiu, yang difasilitasi Umbu Remy Deta, tokoh adat di kampung itu.

Menurut para penenun, perhatian pemerintah daerah dalam upaya mendukung eksistensi tenun ikat Kampung Raja Prailiu, sangat minim. Kalaupun ada kegiatan pameran ke luar Sumba Timur, hanya menyertakan dua penenun. Selebihnya aparat sipil negara (ASN) yang notabene tidak tahu menahu soal tenun. Sekedar tahu, produksi kain tenun Sumba dari Kampung Raja Prailiu, tidak saja dihasilkan para ibu rumah tangga. Tapi juga kaum bapak yang ada di kampung itu. “Bapak-bapak sudah ikut menenun, demi membantu ekonomi keluarga mereka. Ada 80-an kepala keluarga di kampung ini,” ungkap Umbu Remy Deta kepada RakyatNTT.com.

Hal senada juga disampaikan David Panjara dan Andres Kallawai. Menurut keduanya, lesunya pemasaran kain tenun produksi Kampung Raja Prailiu, ikut berdampak pada pendidikan anak mereka. Karena ketiadaan dana, banyak anak-anak sekolah di Kampung Raja Prailiu terpaksa ikut menenun. “Masalah pendidikan dan ekonomi kami masyarakat, adalah dua hal yang sama pentingnya. Karena itu, pertemuan hari ini bukannya tanpa sengaja. Kami percaya Tuhan mengirim Pak Frans Go bertemu kami hari ini, untuk mendapatkan solusi terbaik. Sehingga, produksi tenun ikat kami bisa dicarikan solusinya untuk dipasarkan, dan pendidikan anak-anak kami tidak terganggu. Kami butuh semacam miniatur seni ada di kampung kami, supaya bisa memasarkan produksi tenun ikat Kampung Raja Prailiu,” ujar Andres Kallawai yang diamini David Panjara.

Baca Juga:  "TEBUS MURAH" ala Fransiscus Go Disambut Antusias Warga Sumba Timur

Mendengar keluhan para penenun Kampung Raja Prailiu, Frans Go selaku CEO GMT Institute, menawarkan beberapa solusi sebagai artenatif. Misalnya, memamerkan tenun ikat mereka di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Selain itu, menggelar pameran di Lippo Plaza Kupang. “Saya siap fasilitasi untuk pagelaran tenun ikat Sumba di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Nanti ikut didukung Pemprov DKI Jakarta. Bisa juga melakukan eksebisi pameran tenun di Lipoo Plaza Kupang. Kalau berkenan, nanti saya fasilitasi,” sebut Frans Go.

Soal pendidikan anak-anak di Kampung Raja Prailiu, Frans Go sepakat bila pendidikan anak-anak mereka tidak dikorbankan. “Anak-anak di Kampung Raja Prailiu harus sekolah setinggi mungkin, agar membawa perubahan dan pembaruan bagi kampung ini. Kalau mereka bersedia melanjutkan pendidikannya di Jogya, saya siap bantu,” kata Frans Go. Pernyataan Frans Go tersebut langsung direspon positif Umbu Dapa Tamu. “Ini (Frans Go, red), orang baik. Terima atas kunjungannya ke kampung kami. Berdiri bulu kuduk saya, karena Pak Frans Go mau melibatkan kami di beberapa program mulia bapak. Ini rencana dan jalan Tuhan,” timpal Umbu Dapa Tamu. (robert kadang)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *