oleh

Kreatifitas El Cafe di Tengah Covid-19 yang Kian Mewabah

Iklan Covid Walikota Kupang

Mbay, RNC – Pandemi covid-19 yang sudah setahun melanda dunia turut dirasakan hingga pelosok NTT. Semua lini bisnis ikut tergerus akibat serangan corona.

Tidak terkecuali di Kabupaten Nagekeo. Pusat-pusat bisnis mulai sepi. Pendapatan pun hilang. Yang bisa dilakukan saat ini hanyalah bertahan hidup. Bertahan saja sudah bagus. Karena hari ini tidak sedikit yang sudah gulung tikar.

Iklan Dimonium Air

Di tengah masa sulit ini, semua dituntut untuk kreatif. Harus ada inovasi. Seperti yang dilakukan El Cafe. Sebuah cafe mungil bernuansa alam yang dibangun sejak April 2019. Lokasinya tepat berada di Jalan Kelikisa Kolibali Gang 1, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Saat ini pengunjung sudah enggan datang. Pengunjung yang mayoritas dari kalangan pekerja dan anak muda tak lagi nampak. Hanya ada satu-dua orang yang sesekali mampir. Ini karena situasi pandemi yang belum ada akhirnya.

Pemilik El Cafe ternyata seorang wanita cantik bernama lengkap Maria Elisabeth Ima. Ditemui RakyatNTT.com, Rabu (20/1/2021), Elis-sapaan karibnya menceritakan kisah berdirinya El Cafe hingga tantangan di tengah pandemi.

“Untuk saat ini, meskipun tidak tiap hari ramai, biasanya jam 10 itu sudah buka sampai jam 8 malam. Beda dengan yang sebelum pandemi, misalkan ada tamu, satu atau dua orang, bahkan banyak pun jamnya kita perpanjang. Dulu juga karyawan di sini ada dua orang. Dan gaji per bulannya satu juta perorang. Ya, tergantung pemasukan juga sih, misalkan ramai pengunjung,” kata wanita 28 tahun ini.

BACA JUGA: Kesadaran Masyarakat Nagekeo Masih Rendah Patuhi Prokes

Ia mengatakan pandemi telah melenyapkan pendapatannya yang sehari bisa mencapai 3 jutaan. Saat covid-19 melanda, tidak ada lagi pemasukan. Bahkan terkadang dalam sehari tak ada pengunjung sama sekali.

Ia pun berkreasi dengan menyiapkan makanan siap saji. Fresh food. Juga melayani delivery order. “Orang kantoran saja yang pesan. Lalu kami antar,” kata Elis.

Elis mengatakan El Cafe dibangun dengan keringat sendiri. Modal seadanya. Sebelumnya Elis bekerja di WFI setelah lulus tahun 2016 dari Universitas Merdeka Malang. Ia masuk WFI tahun 2018 untuk sebuah proyek survei.

Namun pada 2019 kakaknya menawarkan dirinya untuk membuka usaha. “Lalu saya berpikir dengan modal yang tidak lumayan banyak, saya sisipkan untuk membangun usaha. Bersyukur bahan-bahan ini kita punya sendiri. Hanya bayar jasa sensor saja. Bambu juga kita ada di kebun. Sedangkan untuk buat lopo itu tukang yang kerja,” cerita Elis.

Untuk keterampilan meracik bumbu-bumbu, ia sedikit punya keterampilan. Ia mencoba berbagai menu. Termasuk nekeng lebu (daging domba). Menu ini menawarkan sensasi tersendiri sekaligus menambah jumlah peminat. Di samping itu El Cafe menyediakan pesanan siap antar sebagai pilihan alternatif semenjak pandemi virus corona.

“Untuk lebih mudah, juga kami mencoba promosi lewat media sosial Facebook. Kebanyakan ada yang pesan,” katanya.

Ia berharap agar pandemi ini segera berakhir. Dengan begitu usahanya bisa kembali normal seperti biasa. (rnc15)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed