oleh

Paradigma Sehat

Oleh Maks Fioh, S.KM)*

Sanitarian dan Ketua Komite PKRS RSUD Ba’a, Kabupaten Rote Ndao

banner BI FAST

PEMBANGUNAN sektor kesehatan di Indonesia dewasa ini lebih dititiberatkan pada upaya preventif dan promotif. Di dalam upaya pembangunan kesehatan dikenal beberapa upaya pelayanan kesehatan antara lain upaya preventif, promotif, kuratif dan rehabilitative. Upaya preventif merupakan upaya kesehatan yang berfokus pada upaya pencegahan penyakit, sedangkan upaya promotif merupakan upaya kesehatan yang difokuskan pada promosi kesehatan. Kedua upaya kesehatan ini merupakan satu ‘paket’ yang tidak bisa dipisahkan. Berbicara tentang upaya pencegahan penyakit, dengan sendirinya kita sudah berbicara tentang promosi kesehatan. Demikian juga ketika kita mempromosikan tentang kesehatan maka itu juga berarti kita telah berupaya mencegah terjadinya penyakit.

Sementara itu, upaya kuratif merupakan upaya kesehatan yang meliputi perawatan dan pengobatan orang sakit, sedangkan upaya rehabilitative merupakan upaya kesehatan yang difokuskan pada upaya pemulihan kesehatan.

Selain pengertian beberapa upaya kesehatan di atas, dalam upaya pembangunan kesehatan pun dikenal adanya dua paradigma yakni paradigma sakit dan paradigma sehat. Untuk memahami lebih jauh tentang apa itu paradigma sakit dan paradigma sehat, sebaiknya kita mengerti dulu apa itu paradigma.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan definisi tentang paradigma sebagai “kerangka berpikir”. Stephen R. Covey dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People” mendefinisikan Paradigma sebagai berikut, “The word Paradigm comes from the Greek. It was originally a scientific term. And is more commonly used to day to mean a model, theory, concept, perception, orientation, assumption or frame of reference. In the general sense, is the way “see” the world, not interm of our visual sense of sight, but in term of perceiving, understanding and interpreting”. (Kata Paradigma berasal dari bahasa Yunani.

Awalnya digunakan hanya dalam bidang ilmiah. Dan saat ini lebih digunakan dengan pengertian sebagai contoh, teori, konsep, persepsi, orientasi, asumsi atau bingkai dari suatu rujukan/acuan.Dalam pandangan umum berarti, cara “melihat” dunia, bukan melihat melalui penglihatan kita secara langsung, namun dalam bentuk rasa/pengertian didapatkan setelah merasakan langsung).

Baca Juga:  BNNK Rote Ndao Rilis Capaian dan Prestasi di Tahun 2022

Dalam pengertian umum paradigma juga dipahami sebagai cara pandang, sudut pandang dan pola pikir tentang suatu obyek.
Setelah memahami pengertian paradigma di atas, maka kita akan masuk pada pengertian berikut yakni pengertian paradigma sakit dan paradigma sehat. Paradigma sakit merupakan kerangka berpikir dan cara pandang dalam pembangunan kesehatan yang berfokus pada upaya kesehatan kuratif dan rehabilitative.

Dalam paradigma sakit, fokus pelayanannya ditujukan pada pelayanan dan pengobatan orang sakit. Dalam pembangunan kesehatan berperspektif paradigma sakit, segala perhatian dan dana dicurahkan pada pengadaan obat-obatan, alat-alat medis, penanganan pasien, balai pengobatan dan lain sebagainya. Sedangkan paradigma sehat merupakan kerangka berpikir dan cara pandang dalam pembangunan kesehatan yang berfokus pada upaya kesehatan secara preventif dan promotif yakni upaya pencegahan penyakit dan promosi kesehatan. Dalam paradigma sehat, fokus pelayanannya ditujukan pada bagaimana mencegah munculnya berbagai penyakit dalam masyarakat.

Pembangunan kesehatan berperspektif paradigma sehat, perhatian dan dana ditujukan pada upaya-upaya pencegahan penyakit seperti penyuluhan kesehatan masyarakat, promosi kesehatan melalui berbagai media penyuluhan seperti media cetak (baliho, spanduk, banner, poster, stiker, liflet,dll) media elektronik (televisi, radio, dll), media sosial (facebook, whatsapp, youtube, instagram, telegram, dll) maupun berbagai bentuk promosi kesehatan lainnya yang mendorong terjadinya perubahan paradigma dan perilaku masyarakat dari perilaku yang tidak bersih dan sehat menjadi perilaku hidup bersih dan sehat.Selain itu pembangunan di bidang kesehatan lingkungan pun mendapat perhatian penuh dalam pembangunan kesehatan berparadigma sehat ini. Adagium kuno “lebih baik mencegah daripada mengobati” merupakan ‘spirit’ dari paradigma sehat itu sendiri.

Lalu bagaimana realitas sesungguhnya dalam pembangunan kesehatan di Indonesia? Sejak tahun 1998 silam, pemerintah Indonesia mulai memperkenalkan paradigma sehat dalam upaya pembangunan kesehatan di Indonesia. Hal ini dilakukan berdasarkan evaluasi Departemen Kesehatan waktu itu bahwa pembangunan kesehatan dalam perspektif paradigma sakit ternyata tidak membawa perubahan berarti dan mencapai hasil yang maksimal dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Karenanya pemerintah Indonesia merasa perlu membuat sebuah terobosan baru dalam pembangunan kesehatan di Indonesia dengan merubah upaya pembangunan kesehatan berperspektif paradigma sakit menjadi pembangunan kesehatan berperspektif paradigma sehat.

Baca Juga:  BNNK Rote Ndao Rilis Capaian dan Prestasi di Tahun 2022

Tanpa terasa waktu terus bergulir, lebih dari satu dasawarsa telah dilewati sejak pencanangan pembangunan kesehatan berperspektif paradigma sehat tahun 1998 silam. Bagaimana kondisi kita saat ini? Bagaimana pemahaman pemerintah selaku subyek pembangunan, seberapa jauh pemerintah Indonesia mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah mengimplementasikan paradigma sehat dalam pembangunan kesehatan di Indonesia?

Seberapa besar dukungan anggaran dan advokasi pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan kesehatan berparadigma sehat ini? Sebagai contoh, seberapa besar alokasi APBN di pusat maupun APBD di daerah yang dialokasikan untuk pembangunan kesehatan yang berparadigma sehat yang meliputi kegiatan-kegiatan preventif dan promotif? Mungkinkah masih ada kepincangan dalam alokasi anggaran di daerah untuk bidang kesehatan, di mana alokasi anggaran untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat kuratif rehabilitative masih mendapat porsi yang jauh lebih besar daripada anggaran untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat preventif promotif?

Apakah DPRD sebagai wakil rakyat dan perpanjangan tangan rakyat memberikan perhatian yang serius dalam upaya pembangunan kesehatan yang berparadigma sehat baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota? Meskipun masalah anggaran bukanlah satu-satunya indikator, tapi minimal hal itu cukup memberikan gambaran seberapa seriusnya pemerintah dalam pembangunan sektor kesehatan yang berperspektif paradigma sehat.

Selain hal di atas, persoalan lain yang juga muncul adalah sudah seberapa jauhkah masyarakat kita memahami arah pembangunan kesehatan dewasa ini? Seberapa pahamkah masyarakat kita tentang paradigma sehat ini? Seberapa pedulikah masyarakat kita dalam upaya-upaya preventif dan promotif dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat itu sendiri? Coba tengok dalam keseharian masyarakat kita, adakah kesadaran yang cukup kuat dalam masyarakat untuk memperhatikan kondisi kesehatan lingkungannya yang dapat mencegah munculnya berbagai macam penyakit berbasis lingkungan dalam masyarakat? Apakah masyarakat kita sudah paham dan sadar akan semuanya ini? Ataukah akan kita temui dalam masyarakat kita sikap yang apatis tentang pentingnya kesehatan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat,serta upaya-upaya pencegahan penyakit? Kalau mau jujur, masih cukup banyak masyarakat kita yang sama sekali tidak peduli dengan kondisi kesehatan lingkungannya yang merupakan cerminan dari pola pikir atau paradigma mereka tentang kesehatan itu sendiri.

Baca Juga:  BNNK Rote Ndao Rilis Capaian dan Prestasi di Tahun 2022

Contohnya masyarakat masih berpikir ‘sakit dulu baru berobat’, bukannya ‘cegah dulu biar tidak sakit’. Perilaku tidak bersih dan sehat seperti buang sampah sembarangan, merokok, konsumsi minuman keras, tidak cuci tangan pakai sabun, tidak melahirkan di fasilitas kesehatan, malas ikut Posyandu dan lain sebagainya adalah bukti bahwa masyarakat sendiri masih hidup dalam paradigma lama yakni paradigma sakit dan belum beralih ke paradigma sehat.Padahal kita tahu bersama bahwa pengobatan selalu lebih mahal dari pada pencegahan. Lagipula pengobatan jauh lebih beresiko daripada pencegahan.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan menghantam Indonesia sejak tahun 2020 silam harusnya menjadi titik balik kesadaran kolektif masyarakat yang mendorong perubahan perilaku dari pola lama yakni perilaku tidak bersih dan sehat menjadi perilaku hidup bersih dan sehat. Faktanya? Berbagai perilaku hidup tak bersih dan sehat masih saja tampak dalam keseharian masyarakat kita.

Inilah realitas kita. Jika pemerintah dan masyarakat kita belum sepenuhnya memahami dan mengimplementasikan pembangunan kesehatan berperspektif paradigma sehat, maka sampai kapankah kondisi ini terus terjadi? Sampai kapankah kita terus berkutat pada paradigma sakit? Bukankah semangat perubahan paradigma ini sudah lama dihembuskan sejak lebih dari satu dasawarsa silam? Akankah terjadi perubahan paradigma yang signifikan dalam pembangunan kesehatan baik yang berskala nasional maupun regional? Semoga. (*)

Dapatkan update informasi setiap hari dari RakyatNTT.com dengan mendownload Apps https://rakyatntt.com

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *