oleh

Merdeka Belajar untuk Belajar Merdeka

Oleh Dian Noer Asy’ari

Mahasiswa S3 Tehnologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya

Dosen Universitas Ibrahimy Situbondo

TEROBOSAN baru yang diluncurkan oleh Mas Menteri merupakan salah satu program inisiatif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Bapak Nadiem Anwar Makarim. Program merdeka belajar ini diciptakan dari banyaknya keluhan serta opini di sistem pendidikan. Salah satunya keluhan mengenai banyaknya peserta didik yang dipatok oleh nilai-nilai tertentu.

Dari berbagai literatur, gagasan ini boleh jadi bermula karena beberapa tokoh menolak betul praktik pendidikan yang mengandalkan kekerasan dan berjuang menyebarkan konsep pendidikan ala ‘Taman Siswa’.
Dalam kuliah kurikulum Dr. Bactiar menjelaskan makna kemerdekaan belajar yang diusung Ki Hadjar Dewantara yakni bagaimana membentuk manusia harus dimulai dari mengembangkan bakat. “Jadi yang punya kehendak itu siswanya, bukan pamong gurunya, dosennya, yang memaksakan kamu harus jadi hijau, harus jadi merah. Untuk itu kemudian timbul Tut Wuri Handayani”.

“Tut Wuri Handayani berarti mendorong dan menguatkan. Namun, menurut beliau, cara mendorong dan memberi kekuatan belajar tak boleh sembarangan. Rentang kendali harus tetap ada, agar asa menjadi manusia terap terjaga.

Menut beliau di salah satu penjelasannya, bakat menjadi kiblat bagi sang pendidik. Guru harus memperhatikan apa yang dapat dikembangkan dari anak didiknya. Guru harus jeli menelisik kebutuhan anak didik, mana yang harus didorong, dan apa yang harus dikuatkan.

“Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir batin… tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar akan kekuatannya sendiri.” (Ki Hajar Dewantara).

Guru merdeka dalam berpikir dan bertindak untuk menumbuh kembangkan potensi murid. Salah dan benar bukan ditentukan oleh instruktur dari pusat, melainkan oleh refleksi guru tentang dampak pada pembelajaran.

Baca Juga:  UKT Naik Drastis, Alumni LPDP UGM Ini Desak Presiden Copot Menteri Nadiem

Tujuan dari program merdeka belajar ini yaitu agar para guru, peserta didik, serta orang tua mendapat suasana yang bahagia. Lalu suasana yang bahagia seperti apa? Menurut saya, merdeka belajar yang dapat menciptakan suasana yang bahagia itu jika peserta didik lebih mandiri dan merdeka/bebas dalam memilih yang sesuai yang dia minati serta mendukung apapun yang dia cita-citakan tanpa ada tekanan, namun tidak keluar dari Standar Nasional. Sehingga membuat peserta didikpun lebih terbuka dan tidak merasakan ketakutan ataupun tidak percaya diri dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Para guru pun harus memiliki otoritas lebih baik lagi, jika sebelumnya guru yang menetap di zona nyaman, maka dengan adanya program ini guru harus lebih bisa menyeimbangan peserta didik. Kemerdekaan adalah bagian penting dari pengembangan guru. Hanya guru yang merdeka yang bisa membebaskan anak, hanya guru yang antusias yang menularkan rasa ingin tahu pada anak dan hanya guru yang belajar yang pantas mengajar. Saling memberikan umpan balik sehingga nantinya akan menciptakan suasana belajar yang efektif.

“Merdeka Belajar” meliputi empat pokok kebijakan yang mengundang banyak sekali pro dan kontra yaitu yang pertama USBN sepenuhnya tanggung jawab sekolah, dimana sekolah dibebaskan untuk mengelola model ujian tersebut. Seperti misalnya ujian tulis, portofolio, karya tulis, dan lain sebagainya.

Menurut saya hal ini pasti sangat menyulitkan pihak sekolah ataupun guru dalam membuat rancangannya, sehingga para gurupun harus lebih mengembangkan rancangan pembelajaran untuk peserta didik. Peserta didik juga berusaha untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki, contohnya membuat portofolio. Dengan adanya itu peserta didik berusaha untuk membuat yang terbaik agar lulus dari apa yang telah dia pelajari serta bernalar tinggi, sehingga bukan hanya ikut ujian saja.

Baca Juga:  Ini Gebrakan Jeriko di Bidang Pendidikan, dari Bagi-bagi Buku dan Seragam hingga Beasiswa

Selanjutnya yang kedua yaitu 2020 Ujian Nasional terakhir, UN akan diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Karakter, dimana ini lebih memihak kepada siswa pertengahan tingkat belajar, dan bertujuan untuk mengukur kemampuan bernalar siswa dalam memecahkan permasalahan yang kompleks dan beragam serta personal.

Menurut saya hal ini cukup baik dimana peserta didik lebih diarahkan dalam konteks kritis, serta gemar membaca, terlebih lagi untuk siswa pertengahan tingkat pembelajaran ini sangat membantu dalam mencari jati diri dan mempersiapkan serta memantaskan untuk kejenjang yang lebih tinggi. saat proses pembelajaran berlangsungpun peserta didik diarahkan untuk berfikir terlebih dahulu mengenai materi pembelajarannya atau konsepnya, menurut saya dengan memahami konsep terlebih dahulu itu akan memudahkan proses pembelajaran misalnya dalam mengerjakan soal.

Kemudian yang ketiga yaitu Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), RPP yang selama ini menjadi salah satu beban guru dengan jumlah konteks yang sangat banyak kini disederhanakan menjadi beberapa poin saja, yang diserahkan pada guru untuk membuat proses pembelajarannya, namun tidak keluar dari topik yang sudah diberikan.

Menurut saya ini sangat baik dimana guru akan lebih mengeksplor kemampuan bagi peserta didiknya dan tidak terbebani dari satu konteks saja, sehingga lebih banyak rencana pembelajaran yang akan diajarkan. Sebelum RPP dipersingkat mungkin para guru terasa terbebani dan membutuhkan waktu yang lama untuk membuat rancangan pembelajaran yang banyak dan sudah dipatokkan, namun dengan dipersingkat ini para guru memiliki waktu lebih untuk lebih mengenal peserta didik ataupun mencari inovasi dalam proses pembelajaran.

Kebijakan yang terakhir yaitu Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) zonasi, kebijakan zonasi ini lebih kepada penentuan zonasi dan presentase penerimaan di masing-masing jalur.

Baca Juga:  Banyak Alumni Belum Ambil Ijazah di STM Nenuk Atambua, Ini Imbauan Kepala Sekolah

Menurut saya dengan adanya sistem zonasi membuat tantangan baru pada setiap sekolah, karena pastinya hal ini akan mengubah gaya belajar sebelumnya dan kemampuan peserta didik yang majemuk sehingga adanya pemerataan.

Pada dasarnya program itu dibuat ketika memang dijalankan dengan benar maka tujuan dari program itu sendiri akan tercapai, perlu penegasan dalam menjalankan revolusi dalam peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri dan butuh penataan yang baik secara kompleks.

Bagaimanapun programnya saya berharap mutu sumber daya manusia yang ada di Indonesia dapat meningkat dan sistem pendidikan kita lebih realistis,jika ingin mengubah yang pertama diubah adalah manusia itu sendiri. Di kemudian hari semoga konsep yang dibuat dapat meningkatkan SDM serta mengubah secara signifikan kualitas pendidikan Indonesia. (*)

Dapatkan update informasi setiap hari dari RakyatNTT.com dengan mendownload Apps https://rakyatntt.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *