oleh

RJ Lino Kembali Dipanggil KPK, Terkait Dugaan Korupsi Pelindo II

Iklan Covid Walikota Kupang

Jakarta, RNC – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memanggil Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pelindo II, Richard Joost Lino (RJ Lino), pada hari ini. Sedianya, RJ Lino bakal diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan tiga unit Quay Container Crane (QCC) di PT Pelindo II.

“Yang bersangkutan diperiksa dalam kapasitasnya sebagai tersangka,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri melalui pesan singkatnya Jumat (26/3/2021) dilansir dari Okezone.com.

Iklan Dimonium Air

Berdasarkan informasi yang dihimpun, RJ Lino telah hadir memenuhi panggilan pemeriksaan KPK sejak sekira pukul 08.30 WIB. Saat ini, RJ Lino sedang menjalani pemeriksaannya sebagai tersangka.

Richard Joost Lino (RJ Lino) tersandung kasus dugaan korupsi pengadaan tiga QCC PT Pelindo II pada anggaran 2010. Dia diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum dan menyalahgunakan wewenangnya untuk memperkaya diri sendiri serta koorporasi.

RJ Lino diduga melakukan penunjukan langsung perusahaan asal China, Wuxi Huadong Heavy Machinery Co, Ltd dalam pengadaan tiga QCC yang dianggap sebagai penyalahgunaan wewenang.

BACA JUGA: 5 Tahun Lebih ‘Gantung’ Kasus RJ Lino, Ini Alasan KPK

Atas perbuatannya, RJ Lino disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor.

Sekadar informasi, KPK mengusut kasus ini sejak akhir 2015 lalu. Sejak saat itu, RJ Lino menyandang status tersangka. Namun hingga saat ini, KPK belum juga merampungkan penyidikan RJ Lino. Bahkan, KPK belum menahan RJ Lino. RJ Lino sendiri terakhir diperiksa pada 23 Januari 2020 atau lebih dari setahun lalu.

Siapa RJ Lino?

RJ Lino disebut adalah alumni Teknik Sipil Institut Teknologi Bandang tahun 1978. Dilansir dari Liputan6.com, Lino adalah pria kelahiran Rote, Nusa Tenggara Timur, 7 Mei 1953 dan pernah menjadi manajer proyek pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1978. Ia juga diketahui memiliki kekayaan lebih dari Rp 32 miliar.

Baca Juga:  Jual-Beli Jabatan, Bupati Nganjuk Ditangkap KPK

Berdasarkan catatan KPK dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang pernah dilaporkan Lino, secara rinci kekayaan yang meliputi harta bergerak dan tidak bergerak mencapai Rp 32.694.486.808 dan US$ 84.687.

Harta tidak bergerak yang terakhir dilaporkan ke KPK tahun 2012 ini terdiri dari sejumlah bidang tanah dan bangunan di sejumlah wilayah yang nilainya mencapai Rp 29.247.350.000.

Sedangkan harta bergerak, Lino diketahui memiliki kendaraan berupa 1 unit mobil Chevrolet Captiva dan 1 unit mobil Mitsubishi Grandis yang totalnya Rp 650.000.000.

Harta bergerak lainnya yang dilaporkan RJ Lino ke KPK juga berupa logam mulia, barang-barang seni dan antik serta lainnya yang nilainya mencapai Rp 1.600.000.000. Serta ditambah giro dan setara kas yang bernilai Rp 1.197.136.808 dan US$ 84.587.

Dengan nilai kekayaan yang cukup fantastis, RJ Lino juga dikenal sebagai orang yang tidak segan memberikan hadiah kepada orang lain.

Belakangan, ia juga pernah dilaporkan ke KPK oleh politisi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu lantaran dianggap memberikan sejumlah perabotan rumah tangga bernilai ratusan juta kepada Menteri BUMN Rini Soemarno.

Masinton Pasaribu menyebut, laporan ini sengaja disampaikan ke KPK karena sesuai dengan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, penyelenggara negara tidak boleh menerima barang atau janji terkait jabatannya.

“Ini pemberinya jelas Dirut Pelindo, yang menerima jelas diberikan ke Menteri BUMN, sesuai dengan di dokumen ini,” terang Masinton saat itu.

(*/okz/rnc)

  • 132
    Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed