oleh

6 Peneliti BRIN Angkat Bahasa Dhao sebagai Bahan Muatan Lokal

Kupang, RNC – Sebanyak 6 peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitian Bahasa Dhao di Kabupaten Rote Ndao, NTT. Bahasa Dhao akan diangkat sebagai bahan pengayaan muatan lokal.

Keenam peneliti tersebut antara lain Drs. Buha Aritonang, MM, Dr. Jermy Imanuel Balukh, Dra. Sri Winarti, M.Pd, Dewi Khairiah, M.Hum, Yulino Indra, S.S.,M.Hum, dan Selly Rizky Yanita, M.Hum. Dari keenam peneliti ini, Dr Jermy Balukh merupakan peneliti eksternal yang berasal dari perguruan tinggi.

banner BI FAST

Buha Aritonang selaku ketua tim menjelaskan riset ini merupakan program BRIN untuk tahun 2022. Ada ratusan judul riset yang diusulkan dari para peneliti yang tergabung di BRIN dari berbagai lembaga. Nantinya judul-judul tersebut diseleksi dan dikompetisikan. Ia bersama tim merupakan peneliti dari Organisasi Arkeologi, Bahasa dan Sastra Pusat Reservasi Bahasa dan Sastra. “Judul yang kami angkat adalah Bahasa Dhao sebagai Bahan Pengayaan Muatan Lokal: Tata Bahasa Pedagogik, Kamus Pelajar dan Ortografi,” kata Buha, Sabtu (5/11/2022) di Kupang.

Menurutnya, proposal riset ini sudah diawali dengan penelitian yang telah dilakukan Dr. Jermy Balukh sebagai disertasinya beberapa waktu lalu. Riset kali ini dilakukan selama 14 hari. Selanjutnya akan diseminarkan dan dievaluasi. Jika lolos seleksi, maka penelitian akan dilanjutkan.

Bahasa Dhao dipilih sebagai objek penelitian karena pertimbangan lokasi tutur bahasa hanya di satu tempat. Pasalnya, di Pulau Ndao bahasa yang digunakan hanya satu bahasa, yakni Bahasa Dhao. “Selain itu, sudah ada dukungan dari hasil penelitian Pak Jermy sehingga tinggal pengembangan untuk kebutuhan masyarakat, dan juga akan menjadi materi ajar. Ini akan menjadi bahan untuk generasi selanjutnya. Selama ini materi muatan lokal yang diajarkan di sana bukan budaya Ndao tapi Rote,” kata Buha.

Baca Juga:  Paskalis Subarjo Nahkodai Biduk HAKLI Rote Ndao Periode 2023-2028

Temuan di lapangan, kata Buha, banyak guru menginginkan Bahasa Dhao harus terus dilestarikan agar tidak punah. Bahasa Ndao memang menjadi salah satu bahasa yang terancam punah. Pengakuan para guru setempat Bahasa Dhao saat ini sudah tidak sesuai lagi seperti zaman dahulu. Oleh karena itu, melalui penelitian ini Bahasa Ndao bisa terus dipakai oleh anak-anak sebagai bahan belajar di sekolah.

Sementara itu, Dewi Khairiah mengatakan penelitian terdahulu yang telah dilakukan Dr. Jermy Balukh menjadi fondasi bagi tim untuk mengumpulkan data-data. Tim mengumpulkan data primer untuk nantinya dipilah untuk dijadikan kamus dan juga tata bahasa untuk dipakai para siswa.

Hasil penelitian ini, kata Dewi, akan direview oleh para reviewer yang ahli di bidangnya. Termasuk review soal anggaran. “Setelah direview diumumkan. Kami direview, nanti kita paparkan proposal, reviewer lalu memberi masukan. Masukan juga dari tim keuangan. Kalau sudah setujui, kita turun ke lapangan,” ujarnya.

Lestarikan Bahasa Daerah

Dr. Jermy Balukh sebagai salah satu peneliti menjelaskan Bahasa Dhao yang kini masih dipakai oleh masyarakat setempat bisa saja punah. Hal ini dikarenakan jumlah penuturnya yang mulai berkurang. Salah satu penyebabnya karena daerah ini terisolasi. “Makanya untuk memenuhi kebutuhan, mereka juga harus keluar dari Pulau Ndao, maka mau tidak mau mereka harus belajar budaya luar, dan bahasa lain dan bawa kembali ke Ndao. Mereka sadar bahwa orang luar tidak bisa berbahasa Ndao, dan mereka harus belajar bahasa lain untuk bisa berkomunikasi dengan orang luar agar mereka bisa hidup,” kata Jermy.

Oleh karena itu, lama kelamaan Bahasa Dhao akan terancam. Dengan penelitian seperti ini, dapat dibuat materi-materi pembelajaran yang bisa dipakai para siswa di sekolah untuk melestarikan bahasa daerah.

Baca Juga:  Paskalis Subarjo Nahkodai Biduk HAKLI Rote Ndao Periode 2023-2028

Saat ini, kata alumnus Universitas Leiden ini, belum ada materi muatan lokal tentang Ndao. Dalam Bahasa Indonesia pun tidak ada, apalagi dalam Bahasa Dhao. Selama ini, pelajaran muatan lokal yang ada di sekolah-sekolah di Ndao didatangkan dari Rote yang berisi tentang budaya Rote, bukan Ndao.

Namun, saat ini sudah dibuat kumpulan cerita dalam Bahasa Dhao yang menjadi sumber insipirasi guru-guru untuk membuat bahan muatan lokal. Selain itu, gereja-gereja setempat juga sudah menggunakan Alkitab berbahasa Dhao.

(rnc)

Dapatkan update informasi setiap hari dari RakyatNTT.com dengan mendownload Apps https://rakyatntt.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *