oleh

Asis Bantah Tuduhan Olga, Mengadu ke DPRD Dianggap Lampaui Hukum Adat

Iklan Covid Walikota Kupang

Ruteng, RNC – Plasidius Asis Deornai, SH., membantah tuduhan keluarga Maria Olga Jelimun terkait penipuan dan pengingkaran janji pembayaran sanksi atau denda adat yang telah disepakati. Hal itu disampaikan Asis melalui pesan WhatsApp yang diterima RakyatNTT.com, Kamis (17/6/2021) pagi.

Asis Deornai menjelaskan kronologi hubungan asmaranya dengan Olga Jelimun yang berujung pada perpisahan dan denda adat.

Iklan Dimonium Air

Tahap Perkenalan

Asis Deornai menjelaskan, awalnya ia mengenal wanita bernama Olga Jelimun di media sosial facebook sekitar bulan Mei 2020. Usai lama berkenalanan, Asis mendapat kabar bahwa Olga pulang kampung (dari Bali) berlibur di rumah orang tuanya di Koter Anam. Asis dimintakan Olga untuk bertemu dirinya di rumah orang tuanya jika ingin serius menjalin hubungan yang lebih jauh.

“Saya pun setuju untuk melakukan perkenalan tersebut di hadapan orang tuanya. Keesokannya saya berangkat menuju Koter Anam dengan persiapan sesuai cara dan adat Manggarai. Pau Tuak dan uang sebagai simbol keseriusan,” ungkap Asis.

Setelah dua hari berada di Anam, Asis kemudian memilih kembali ke Labuan Bajo. Saat itu, ia tidak pulang sendiri. Menurutnya, Olga tiba-tiba memutuskan mau ikut bersama ke Labuan Bajo untuk tinggal bersama.

“Saat itu saya bertanya, apakah sudah disetujui orang tua? Ibu Olga menjawab ya sudah. Di hadapan orang tuanya kami minta izin untuk kembali ke Labuan Bajo,” kata Asis.

Dalam perjalanan ke Labuan Bajo, lanjut Asis, ia memang merasakan sesuatu yang aneh. Biasanya pada tahap memutuskan untuk tinggal bersama itu belum diperbolehkan. “Inilah fakta yang terjadi yang saya alami saat itu,” katanya.

Namun, tanpa berpikir panjang Asis melepaskan pikiran tersebut dan siap hidup bersama dengan Olga. Apalagi Ia memang memiliki niat untuk serius ke tahap pernikahan.

Pertunangan (Adat Manggarai Tuken Mbaru)

Asis Deornai menjelaskan, setelah sekian bulan tinggal bersama di sebuah kontrakan di Labuan Bajo, mereka akhirnya lakulan acara pertunangan. Walaupun awalnya sering juga tertunda, niat tukar cincin itu akhirnya terlaksana pada Agustus 2020.

“Saat itu saya membawa uang sejumlah puluhan juta dan hewan sebagai sebuah kebiasaan adat yang telah disepakati bersama. Acara berlangsung meriah dan dihadiri kedua keluarga besar,” jelas Asis.

Kata dia, setelah kembali ke Labuan Bajo dan hidup bersama satu rumah, ia membaca dan merasakan sesuatu yang aneh yang terjadi. Tidak biasanya, karakter dan prilakunya memberi kesan kurang nyaman selama hidup bersama. Perilaku temperamen ditunjukan Olga dalam tutur kata yang cenderung menghina profesinya.

“Sering terjadi di kala kami ribut mulut. Saya mencoba untuk bertahan dan tidak gegabah mengambil sikap. Hari demi hari saya pelajari, dan sampailah pada suatu ketika Ibu Olga jatuh sakit,” katanya.

Sakit yang diderita Olga bagi Asis sulit diobati secara medis. Sebab Olga mengaku melihat arwah orang meninggal, setan dan lain-lain. Hal itu nembuat Asis kalang kabut dan hilang fokus pada pekerjaan. Pada fase sakit pertama ini Asis langsung menghubungi kedua orang tuanya dan meminta orang tuanya untuk merawat Olga.

“Sakit pada minggu berikutnya juga sama. Yang lebih menakutkan saat dia memegang pisau hendak membunuh saya saat saya sedang tidur di sofa kantor,” kata Asis.

Asis menuturkan, untungnya ia selamat sebab Olga lebih dulu memukul pahanya dengan tangan. Saya dikejar keliling rumah hingga tetangga melihat peristiwa yang terjadi saat itu. Setelah beberapa jam Olga sembuh, Asis meminta agar dirinya tinggal dulu dengan orang tuanya di Anam. Asis mengantarkan Olga ke rumah orang tuanya.

“Satu minggu setelah itu saya mendapat kabar bahwa Ibu Olga sedang berobat di Wewo Satar Mese. Kami sering menelpon menanyakan keadaan masing-masing,” lanjut Asis.

Baca Juga:  Hingga Bulan Juli, Banyak Nakes di Manggarai Belum Terima Insentif

Minggu berikutnya kata Asis setelah dinyatakan sembuh, ia memutuskan untuk menjemput Olga ke Koter Anam untuk kembali hidup bersama di Labuan Bajo. Baru seminggu di Labuan Bajo, sakitnya mulai kambuh lagi.

“Saya lelah dan kemudian saya memutuskan agar Ibu Olga kembali ke Anam untuk mengobati sakitnya,” kata Asis.

Pada saat itu terjadilah pertengkaran mulut hebat. Olga malah men-justice Asis laki-laki tidak bertanggung jawab karena tidak mampu merawatnya. “Saya masih ingat kata-katanya begini; Kalau ite minta saya kembali ke rumah orang tua saya, saya minta antar saya pulang baik-baik di hadapan orang tua saya. Jika ite sudah tidak mau dengan saya ya Molas Kole,” tuturnya.

Saat mendengar itu, Asis menilai bahwa Olga tidak memahami dirinya. Akan tetapi dengan penuh kesabaran ia menjawab “Yang saya maksudkan bukan tentang saya tidak mau, terapi ini tentang kamu sakit Ibu”.

Menurut Asis, penjelasannya disambut sebuah anggapan bahwa dirinya tidak mau lagi dengan Olga. Menurutnya, ini merupakan awal kekeliruan yang terjadi.

Setelah itu, kata Asis, Olga memutuskan pergi dan tidak kembali ke Anam, tetapi memilih istirahat di rumah keluarga Asis di Hombel Ruteng. Asis kemudian ditelepon keluarganya untuk segera ke Ruteng agar menyelesaikan persoalan keduanya dengan tata cara adat Manggarai.

“Keesokannya saya ke Ruteng untuk menyelesaikan persoalan kami hingga kami sepakat untuk selesaikan secara baik-baik di hadapan kedua orang tua dan keluarga besar di Koter Anam,” jelas Asis.

Tahap Berpisah

Asis mengaku, secara jujur tahap ini di luar dugaannya. Hal itu karena kesepakatan bertemu orang tua dan keluarga besar di Koter Anam sesungguhnya adalah tentang konsolidasi perdamaian.

“Saya meminjam istilah adat Manggarai yakin Baro Salah (Mengaku Salah),” katanya.

Keduanya dan bersama keluarga Asis mendatangi kedua orang tua Olga dan keluarga besar di Koter Anam untuk melakukan upaya perdamaian.

“Apa yang terjadi? Niat kami sia-sia. Kami dianggap bahwa perdamaian yang kami lakukan hanyalah sebuah cara untuk melepaskan anak perempuan mereka,” kata Asis.

Ia mengaku dihujat dengan kata-kata yang kurang sopan yang membuatnya tidak nyaman dan tidak dihargai. Asis merasakan bahwa niat dirinya dan keluarga tidak dihargai. Hingga sampailah pada dua opsi yang ditawarkan keluarga besar Olga. Pertama, apakah mau serius menikahi Olga atau melepaskan Olga.

Mendengar pertanyaan itu, spontan Asis mengatakan bahwa kedatangannya bersama keluarga sesungguhnya untuk acara Baro Salah’ (Berdamai). Namun belum selesia ia berbicara ada suara sumbang di luar pintu dengan kata-kata yang kasar. Ada yang mengancam memukul, ada juga menghina profesinya. Di situlah ia merasa harga dirinya berantakan. “Saya terdiam dan sembari memikirkan semua kemungkinan terburuknya. Dalam hati, saya renungkan,” kata Asis.

Ketika itu, waktu sudah pukul 02.00 wita, keluarga Olga meminta Asis untuk menjawab yang secepatnya. Hal itu memang agak bertentangan dengan nuraninya.

“Karena kalau saya jawab seperti tadi lagi bukankah mereka marah kembali saya? Saat itu suasana batin saya tidak tenang dan yang saya rasakan ada semacam dipaksa dan ditekan untuk memilih opsi yang kedua yakni melepaskan anak perempuan mereka,” kata Asis.

Sebagai orang Manggarai, ia tahu maksud dan konsekuensi yang akan diterima. Namun daripada terus dihujati dengan kata-kata kasar, maka opsi kedua diambil. “Bagi saya ini ini keputusan menyelamatkan. Saya harus ambil,” katanya.

Dengan rasa takut Asis mengatakan ingin berpisah dengan Olga. Hubungan keduanya akan berhenti sampai di situ. Menurut Asis, mendengar jawabanya itu mereka semua menyambut gembira.

Baca Juga:  Geger! Perias Pengantin di Manggarai Ditemukan Tewas di Kamar Kos

“Sambil menjawab begini ‘Eme Bao lite Timbon Hoo, Poli Bao Gi Tombo hoo Ga’ Untuk apa ite putar-putar (Kalau dari tadi kamu omong, sudah selesai ini pembicaraan kenapa kamu putar-putar),” jelas Asis.

Atas hal itu, Asis terdiam dan menyimpulkan bahwa yang menjadi keinginan mereka adalah bukan tentang Baro Salah’ tetapi cerai atau pisah. “Saya mengucapkan opsi kedua itu sesungguhnya sebagai cara untuk menyelamatkan diri saya dan keluarga,” kata Asis.

Menetapkan Sanksi Adat

Asis mengatakan, ia masih ingat pihak Olga menawarkan sanksi adat “molas kole” dari Rp 300 juta dan seekor kerbau. Bahkan Olga sendiri meminta Rp 500 juta dengan seekor kerbau dengan dalil harga diri sebagai seorang wanita dan nama baik keluarga.

Mendengar itu Asis kaget. “Uang dari mana saya membayar sejumlah itu?” katanya.

Tawar menawar pun terjadi. Asis meminta untuk diturunkan sanksinya di angka Rp 50 juta dan satu ekor kerbau. Sampai terakhir ia harus memutuskan untuk naikkan Rp100 juta dengan seekor kerbau sebagai upaya menyelamatkan dirinya bersama keluarga yang hadir.

“Dan akhirnya mereka menerima keputusan saya di angka Rp 100 juta dan satu kerbau terapi dengan syarat dibuatkan surat pernyataan,” katanya.

Menurut Asis, dengan penuh rasa takut dan di bawah tekanan akhirnya ia membuat surat pernyataan dan ditandatangani di atas meterai. Acara pun selesai dan Asis bersama keluarga bisa keluar dari kampung Koter Anam menjelang pagi. “Dalam surat pernyataan itu isinya kurang lebih soal kesanggupan saya membayar sanksi adat sesuai kesepakatan dan tanggal yang dijanjikan,” jelasnya.

Pembayaran Sanksi Adat

Asis mengatakan, pada tahap ini ia mulai berusaha mencari uang untuk memenuhi janji tersebut. “Suasana batin saya tidak tenang karena saya merasa bahwa uang sejumlah itu dalam kondisi pandemi Covid-19 ini tidak mungkin saya dapatkan,” kata Asis.

Akhirnya ia memutuskan dan memilih untuk melobi Olga dan Tongka (Juru Bicara Adat) agar bisa menurunkan sanksi adat di angka Rp 50 juta dan satu ekor kerbau. “Lobi saya berhasil, dan mereka menyetujui saya bawa sanksi adat sebesar permohonan saya,” kata Asis.

Ia menjelaskan, sesungguhnya tidak ada kendala soal uang itu, karena ia meyakini bahwa hasil kerjanya yang mengurusi kasus perkara perdata fee-nya sebesar itu. Namun dua hari sebelum hari H, kliennya tidak membayar fee dengan alasan uang habis. “Suasana batin saya semakin tidak tenang bercampur sedih. Saya mau bawa apa kalau uang tidak ada?” kata Asis.

Ia pun berusaha meminjam uang dari seorang sahabat. Namun hanya bisa mendapat Rp10 juta, sehingga pada Selasa tanggal 25 Mei 2021 itu, ia memberanikan diri untuk menghadap dan membawa uang sesuai kemampuannya.

Sesampainya di Anam pada malam hari acara penyerahan sanksi adat berlangsung. Asis hadir bersama tongka dan dengan para sahabatnya yang lain. Mereka berjumlah 4 orang. “Malam itu Tongka saya mulai dengan acara tuak cai. Berapa lama kemudian tongka menyampaikan jumlah yang kami bawa hanya Rp 10 juta saja,” kata Asis.

Saat itu, pihak keluarga Koter Anam tidak menerima karena mereka menilai bahwa dirinya telah ingkar janji. Mereka mengatakan pihak Asis mesti membawa Rp50 juta dan satu ekor kerbau yang jika ditotal mencapai Rp60 juta. “Mana yang benar, kamu tipu kami semua di sini. Jangan pulang ya. Undang semua keluarga kamu datang ke sini. Kami tidak terima uang itu,” terang Asis meniru pernyataan pihak Olga.

Baca Juga:  Hina Waket DPRD Manggarai di Facebook, Oknum Guru Minta Maaf

Akibat hal itu, suasana hati Asis kembali sedih, gelisah bercampur takut. Namun ia berusaha kuat. Tongka dan sahabatnya keluar dari rumah itu dan pergi meninggalkannya sendirian.

“Alasan mereka pergi yakni cari uang pinjaman di Cancar dan di Ruteng. Tinggal saya sendiri,” kata Asis.

Sekitar pukul 00.00, Asis meminta tongka pihak keluarga Koter Anam agar menerima saja uang yang dibawa dan jangan dimasukkan dalam sanksi adat.

“Ini uang permohonan saya untuk mundur tanggal dan bulannya,” tambahnya.

Namun pihak keluarga Olga mengatakan menerima uang tersebut asalkan ada saksi yang menjamin bahwa Asis memiliki komitmen untuk membayar sanksi adat sejumlah Rp50 juta dan satu ekor kerbau. Keluarga Olga melarang Asis pulang sebelum saksi dihadirkan.

“Akhirnya saya meminta bantuan Pak Edison Rihimone sahabat saya yang saat ini duduk di DPRD Manggarai. Saya sampaikan agar pak Edi segera ke Koter Anam untuk bisa menjadi saksi dalam persoalan yang saya hadapi,” jelas Asis.

Keesokan harinya, kata dia, sekitar pukul 15.00, sahabatnya itu datang membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan meminta mundur sampai tanggal 15 Juni 202.

“Jaminan uang Rp 8 juta dan surat pernyataan yang saya buat adalah taruhannya. Saya pun bisa keluar dari Anam atas bantuan sahabat saya Pak Edison Rihimone,” kata Asis.

Asis kemudian pulang ke Labuan Bajo dan berusaha mencari uang untuk membayar sanksi adat. Namun sampai tanggal 15 Juni 2021, ia belum mendapatkan uang tersebut. “Saya menyampaikan baik melalui telepon maupun pesan WA ditujukan kepada tongka dan Ibu Olganita. Saya memutuskan untuk tidak pergi ke Anam sampai saya mendapatkan uang tersebut,” katanya.

Dilaporkan ke DPRD, Polisi dan Bupati

Asis mengatakan, tanggal 26 Juni 2021 ia mendapatkan kabar bahwa keluarga Olga dan keluarga besar Koter Anam mendatangi kantor DPRD Manggarai.
Mereka hendak meminta pertanggung jawaban Edison Rihimone sebagai saksi dalam persoalan yang ia hadapi. Mandapat kabar itu, ia bergegas ke Ruteng untuk melihat secara dekat apa yang sesungguhnya terjadi.

“Mereka bertemu Ketua DPRD Manggarai untuk menyampaikan niatnya bertemu Pak Edison dan kapasitasnya sebagai saksi dalam persolan Asis Deornay,” jelasnya.

Karena tidak kunjung menemukan hasil yang diharapkan, beberapa jam kemudian ia mendapatkan kabar bahwa Olga dan keluarga besarnya melaporkan Asis ke Polres Manggarai untuk diproses hukum. Ia juga mendapatkan informasi masalah ini dilaporkan ke Bupati Manggarai.

“Bagi saya, menyelesaikan persoalan adat apalagi tentang sanksi adat hanya bisa diselesaikan oleh hukum adat itu sendiri. Lembaga DPRD dan Bupati bukanlah orang yang dimintakan pertanggungjawaban. Error in persona. (salah sasaran). Begitu juga kepolisian,” jelasnya.

Menurut pengacara Labuan Bajo Lawyers Club itu, masalah sanksi adat tidak diatur dalam undang-undang. “Terkecuali jika diminta untuk memediasi persolan seperti ini. Yang pasti mereka akan mengupayakan sebagai pendekatan dengan cara damai (Pendekatan Restoratif Justice),” katanya.

Asis menegaskan, hal ini sudah menjadi persoalan nama baik. Setiap warga negara sama di hadapan hukum (Equality before the Law). Ia dan sahabatnya Edison tidak tinggal diam.

“Apa yang dirasa itu bisa kita pidanakan ya kita pidanakan. Di mana ada jalan lain yang dirasa baik ya kita juga tentu kita hargai,” tegasnya.

Menurut Asis, mengadu ke kantor DPRD, Bupati dan polisi sudah melampaui anjuran hukum adat sebagai orang Manggarai. “Niat saya pupus untuk tidak membayar sanksi adat itu. Karena mereka telah mengadukan saya ke mana mana,” tutupnya. (rnc23)

 

  • 141
    Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed