oleh

Bakti TNI untuk Bangun Generasi Bangsa di Garis Batas RI-RDTL

Kefamenanu, RNC – Sore itu sekira pukul 15.40 wita, wajah langit lintas pantai utara Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) nampak cerah meski sang surya mulai beranjak menuju peraduan.

Cuaca cukup panas hingga menggerahkan dahaga. Mobil rental Avanza putih yang dikemudikan salah seorang anggota Kodim 1618/TTU, Serda Aris Tildes, meluncur dengan kecepatan di atas rata-rata. Dalam mobil itu ada beberapa wartawan, di antaranya dari RakyatNTT.com, Pos Kupang, Timex, Victory News dan iNews TV.

banner BI FAST

Para kuli tinta itu dibuntuti arak-arakan rombongan Bupati Timor Tengah Utara saat memasuki lokasi sasaran TMMD di SDN Manune di Dusun 4, Desa Motadik, Kecamatan Biboki Anleu, Jumat (5/3/2021).

Secara geografis, letak lokasi TMMD berada di pinggiran wilayah perbatasan darat dan laut RI-RDTL. Juga merupakan perbatasan darat kabupaten Belu dan TTU. Awak media saat itu lebih memilih melewati jalur Atambua. Jalur yang tidak terlalu berkelok sepanjang kurang lebih 90 km, kemudian 30 km menuju lokasi dengan memakan jangka waktu sekitar 3 jam perjalanan menuju lokasi. Sementara rombongan Bupati TTU melewati jalur Wini, Insana Utara.

Hempasan debu pada jalan masuk ke SDN Manune tanpa aspal menyambut kedatangan orang nomor satu di Bumi Biinmaffo itu. Ketika tiba, suasana tampak biasa-biasa saja. Tidak seperti lazimnya penjemputan pejabat. Tidak ada tari-tarian, bunyi gong dan pengalungan selendang hingga sambutan secara adat. Bisa jadi, masyarakat setempat lebih memilih menaati protokol kesehatan dengan menjauhkan diri dari kerumunan massa.

BACA JUGA: Tinjau Lokasi TTMD, Bupati TTU Janji Tambah 3 Ruang Kelas di SDN Manune

Turun dari mobil Fortuner silver DH 1, berbusana khas motif adat Biboki, Bupati Periode 2021-2026 itu langsung disambut penampakan jalan rabat beton setebal 15 sentimeter. Wakil Bupati TTU, Drs. Eusabius Binsasi dengan setelan lengan panjang corak motif insana pun mulai mengambil langkah di atas jalan selebar 3 meter yang telah dikerjakan sejak 15 Februari 2021 itu.

Rombongan yang sebelumnya melakukan pembagian 10 paket sembako TMMD dan peninjauan kolam budidaya benih ikan lele hasil binaan kelompok tani Kodim 1618/TTU di Koramil 1618-06 Ponu itu pun mulai menyesuaikan dengan mengayunkan kaki di atas rabat jalan sepanjang 155 meter itu. Sesekali, mereka tak puas dengan kualitas jalan dengan menepi ke sudut kiri dan kanan untuk melihat ketebalan jalan. “Ini baru betul. Ini orang (TNI) memang jiwa membangun betul. Luar biasa,” kata Bupati TTU, Juandi David didampingi Ketua DPRD TTU Hen Bana.

Masih sekitar ratusan meter sejumlah pejabat lingkup pemda TTU di bawah arahan Dandim 1618/TTU Letkol Arm Roni Junaidi S.Sos harus melewati tumpukan material dan lumpur kering berbekas gilingan ban mobil menuju sebuah bangunan permanen yang memanjang ke timur dan barat. Terletak persis di bawah kaki gunung, yang menurut masyarakat lokal gunung tersebut disebut gunung Bausora. “Jalan (Rabat) menuju sekolah dengan target 376 meter sudah mencapai 155 meter atau 44 %,” jelas Dandim Roni kepada rombongan.

Terlihat cukup banyak warga yang ada di lokasi TMMD. Sekitar kurang lebih 30 orang banyaknya. Ada masyarakat biasa. Ada yang mengenakan pakaian loreng. Ada yang berseragam cokelat bertuliskan Bhabinkamtibas di bahu kiri. Mereka duduk di bawah pohon. Ada pula yang sibuk melakukan pengerjaan rangka baja ringan untuk membuat atap bangunan empat ruangan permanen yang sudah dilakukan selof atas itu.

Tak satupun masyarakat yang mendekati rombongan, bahkan pergi berjabatan tangan dengan para pejabat. Mereka hanya terdiam dan melihat dari kejauhan.

Tampak sebuah tangki biru milik Kodim 1618/TTU parkir persis di depan bangunan itu. Bahan material seperti batu, pasir, semen, batu batako serta alat moleng pun masih tergeletak di beberapa sisi lingkungan sekitar. Beberapa tempat penampungan air, baik fiber berwarna biru dan hitam maupun yang dirakit dari pelepah pohon lontar masih berdiri kokoh. “Pembangunan fisik berupa empat ruang kelas berukuran 5×28 meter untuk empat ruangan masing-masing 5×7 meter persegi sudah mencapai progres 27 %,” kata Dandim Roni.

SDN Manune
Gedung SDN Manune yang sangat darurat. (Foto: Abson/RNC).

Bupati TTU, Juandi David didampingi Wakil Bupati Drs. Eusabius Binsasi terus melakukan peninjauan. Sesekali, mereka menyempatkan untuk bersenda gurau bersama para tukang serta masyarakat yang ada. Senyum tulus penuh keceriaan pun mulai muncul dari mereka. Ada yang spontan mengucapkan terima kasih kepada pemimpin baru kelahiran Biboki itu. Tidak hanya itu, Juandi David juga berjanji akan kembali bertatap muka dengan mereka dalam suasana yang lebih dekat.

Pandangan mata lalu menyerempet sebuah bangunan reyot mirip kandang ayam yang masih berdiri persis di sisi kanan bangunan permanen baru itu. Bagian depan bangunan dengan tiga ruangan tersebut terdapat sejumlah kursi bangku yang sudah termakan usia. Dibiarkan begitu saja. Ada kursi yang pada bagian sandaran dan dudukannya sudah patah. Terlihat sebuah papan tulis hitam terpampang di dinding depan bangunan beratapkan daun lontar yang sudah sobek-sobek itu. Tampak rayap mulai perlahan merajalela di setiap tiang dan dinding bangunan berlantai tanah itu. Terancam roboh.

Bangunan itu ternyata tidak bisa dipandang sebelah mata. Menyimpan sejuta kenangan suka dan duka bersama para murid dan guru selama mengasah cakrawala berpikir demi masa depan anak-anak bumi pertiwi di wilayah perbatasan RI-RDTL itu.

Masih terukir jelas di benak kepala SDN Manune, Frederikus Simau S.Pd, tentang perjuangan demi mencerdaskan anak-anak bangsa berlatar belakang orang tua petani itu.

BACA JUGA: Pembukaan TMMD Ke-110, Bupati TTU: Saya Sangat Terharu

Ia pun mulai mengisahan. Fisik sekolah yang dibuat seadanya menggunakan bahan lokal itu mulanya berkat kerja sama dan dukungan orang tua murid dan masyarakat dusun Audiak dan Bokon untuk mendirikan sekolah kecil sejak tahun 2014 lalu. Awal yang penuh keyakinan akan masa depan anak-anak mereka agar kelak bisa berguna bagi Nusa dan bangsa.

Seiring berjalannya waktu, memasuki umur yang ke-6 di tahun 2020, sekolah yang merupakan pecahan dari SDN Nonotbatan itu sah dinyatakan berdiri sendiri oleh pemerintah daerah.

Lantaran sekolah tersebut dibangun dengan darurat, mereka seringkali mengalami tantangan pada saat hujan, panas maupun dingin. Di saat awan mulai gelap, tetesan air hujan mulai menembus atap yang bocor. Mereka harus berhenti sejenak saat aktivitas mengajar untuk menambal atap yang bocor. Selain itu, lantaran masih berlantai tanah, para siswa dan guru harus bekerja sama untuk mengokfol bagian yang terendam air dan lumpur.

Sementara di musim dingin angin akan berhembus melalui celah dinding yang reyot hingga membuat mereka mengantuk. Panas pun demikian, mengiringi mereka pulang sekolah dengan berjalan kaki berkilometer. Sungguh luar biasa.

  • 199
    Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *