oleh

Esensi Politik Menuju Revolusi Mental

Iklan Demokrat

Oleh Arkhidius Bano
Belajar di Seminari Scalabrinian Ruteng

POLITIK adalah salah satu taktik bagi politikus untuk merebut kekuasaan. Di era modern ini melahirkan begitu banyak manusia yang semakin pintar untuk menunjukan kebolehan dalam hal intelektual. Setiap individu berlombah-lombah terjun ke dalam dunia politik. Mereka yang memiliki pandangan kritis terhadap masalah social ekonomi di sebuah negara atau daerah tampil sebagai pemimpin untuk mensejahterakan kehidupan masyarakatnya.

Iklan Dimonium Air

Perjuangan untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia sebagai sebuah negara yang bebas dari penderitaan yaitu mencapai masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera di segala bidang kehidupan tetapi kenyataannya masih menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Hal ini disebabkan oleh adanya upaya untuk membangun bangsa dan negara Indonesia melalui pemanfaatan kekuatan politik di tanah air yang tercermin dalam kegiatan-kegiatan politik dari para politisi yang berbeda-beda partai politiknya.

Nuansa-nuansa politik yang terlewati memberikan harapan baru bahwa dengan terpilihnya pemimpin yang baru akan membawa rovolusi dengan memperhatikan seluruh masyarakat. Setiap warga masyarakat berhak memilih dan dipilih. Para calon politisi menghadirkan program kerja (visi dan misi) mereka selama lima tahun ke depan untuk melayani masyarakat jika mereka terpilih.

Para pemimpin melihat banyak hal yang harus dibenahi. Mulai dari masalah ekonomi, terorisme, kesehatan, pendidikan, narkoba, dan korupsi. Perlu diketahui bahwa, Negara Indonesia merupakan negara yang masih berada dalam garis kemiskinan. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang menderita. Penderitaan akan terus-menerus dirasakan oleh masyarakat apabila pemerintah tidak secepatnya mengambil sebuah tindakan untuk membasmi virus-virus yang terus-menerus merongrong kehidupan masyarakat yakni para koruptor.

BACA JUGA: Ada Jejak Munarman di Teroris JAD

Baca Juga:  Apakah Sektor Peternakan di NTT Tidak Berkembang Saat Ini?

Setiap tahun Negara Indonesia dihadapkan pada masalah ekonomi, narkoba, korupsi dan terorisme yang perlahan-lahan telah menggerogoti seluk-beluk kehidupan masyarakat. Hingga saat ini masalah-masalah tersebut belum ditangani secara efektif. Artinya bahwa telah berkali-kali menggantikan para pemimpin yang pernah duduk di kursi kepemimpinan tetapi belum ada yang mampu menghentikan laju masalah-masalah tersebut.
Pertanyaanya, apakah masalah-masalah tersebut akan terus terjadi apabila masih ada manusia di bumi? Hal ini perlu diselidiki lebih jauh sampai ke akar-akarnya.

Korupsi sendiri merupakan tindakan kejahatan yang dilakukan oleh para politikus terpilih. Sering kali kita melihat dan mendengar bahwa kasus korupsi terus meningkat yang dilakukan oleh para politikus. Apakah tujuan politik adalah salah satu taktik untuk memeras masyarakat? Ataukah sebaliknya untuk mensejahterakan masyarakat? Kasus korupsi bukan lagi merupakan sebuah hal baru di telinga masyarakat tetapi sudah menjadi hal biasa. Masyarakat sudah bosan dengan kasus seperti ini. Masyarakat menjadi bingung dengan janji yang hanya memberikan harapan palsu. Akhirnya perpecahanlah yang menjadi realitas masyarakat kecil.

Menurut Zainul Ittihad Amin (2016, hal. 21), “bangsa Indonesia yang majemuk ini mendiami kepulauan Nusantara yang tersebar di 17.508 buah pulau besar dan kecil, berada di antara dua samudera atau lautan dan dua benua dapat bersatu menjadi satu bangsa. Hal ini sulit dibayangkan.”
Pandangan ini menegaskan bahwa bangsa Indonesia sangat mudah diprovokasi atau dihasut melalui politik itu sendiri. Pengalaman ini telah tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia yang sangat panjang ketika dijajah oleh bangsa-bangsa asing sebelumnya.

Masyarakat mengharapkan seorang pemimpin yang bisa memegang janji–janji kampanyenya setelah terpilih menjadi pemimpin, mengharapakan adanya kerja nyata yang harus dilakukan oleh para pemimpin sebagai bukti dari janji–janji masa kampanye. Masyarakat tidak mengharapkan politikus yang nanti menjadi koruptor. Memilih dan dipilih bukan merupakan suatu hal yang mudah. Maka, keduanya harus dipertanggung jawabakan secara seimbang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed