oleh

Apakah Sektor Peternakan di NTT Tidak Berkembang Saat Ini?

Iklan Demokrat

Oleh Ir. Umbu Laiya Sobang, M.Si
Dosen Fakultas Peternakan Undana (Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan)
Kandidat Doktor pada Prodi S3 Imu Ternak Universitas Nusa Cendana

SEKTOR ini menjadi menarik untuk diperbincangkan oleh karena memang fakta sejarah pernah menempatkan NTT sebagai daerah dengan julukan “gudang ternak” karena mampu mengekspor ternak ke pulau lain seeprti jawa dan kalimnatan dan bahkan sampai ke hongkong. Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apakah benar NTT bukan gudang ternak lagi di Indonesia hanya karena kita tidak mengirimkan ternak ke Hongkong.

Iklan Dimonium Air

Kalau begitu apa yang menjadi indikator bahwa sebuah daerah dikatakan gudang ternak bukankah ukuran gudang penuh atau tidak dilihat dari kuantitas isian gudang. Artinya dalam ukuran sederhananya adalah populasi dari ternak yang ada di suatu daerah. Dalam beberapa jargon politik dan kampanye akademis sering kita mendengar dengan nada berapi-api “Mengembalikan NTT sebagai Gudang Ternak”.

Pertanyaan sederhana yang muncul adalah kalau ukuran populasi sebagai ukurannya, apakah ketika NTT mengekspor ternak ke hongkong berapa populasi ternak saat itu apakah lebih banyak dari populasi sekarang, sehingga kita selalu kampanyekan kembalikan NTT sebagai gudang ternak atau justru populasinya lebih sedikit. Untuk menjawab pertanyaan utama di atas tentang kondisi sektor peternakan saat ini, maka semua pihak yang berkepentingan kita luangkan waktu untuk membuka data terpecaya yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik baik Propinsi maupun statistik Pertanian.
Dalam Rilis data Statistik Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan 2020, disajikan data populasi ternak dan pengeluaran ternak menurut propinsi, seperti tabel berikut:

Populasi dan jumlah pengeluaran bebebrapa jenis ternak besar Propinsi NTT tahun 2016-2020

tabel 1

Selanjutnya berdasarkan data yang dirilis Badan Statistik Propinsi NTT tahun 2020, terlihat jelas bagaimana posisi subsektor peternakan dalam struktur PDRB yang dikomparasi dengan subsektor lain, khususnya sektor pertanian secara umum pada tahun 2019, seperti dalam tabel berikut:

Baca Juga:  Data Covid-19 RI 25 September: Jateng Tertinggi, NTT 64 Kasus

tabel 2

Berdasarkan data di atas, apa yang bisa dijelaskan kepada kita? Dari sisi populasi apakah pemerintah dan kita semua masih ragu kalau NTT masih gudangnya ternak? Karena ternyata kita masih berada di deretan peringkat terbaik dari 34 propinsi dari sisi pengeluaran ternak besar, juga masih peringkat 1 untuk ternak kerbau dan kuda, serta peringkat 4 untuk ternak sapi, sekalipun populasi sapi di peringkat 6.
Dari aspek kontribusi, sektor pertanian secara umum masih dominan sebagai pembentuk PDRB NTT sebesar 28% pada tahun 2019. Dari angka kontribusi tersebut sektor pertanian dan peternakan masih mendominasi PDRB NTT sebesar 22,53%. Sektor peternakan sendiri memberikan persentase dan laju pertumbuhan PDRM yang lebih tinggi dibanding tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan bahkan perikanan dan kehutanan yang 9,46% dan 6,36%.

Artinya, dengan data ini, kita meyakini bahwa sektor primer ini masih menjadi sumber pendapatan terpenting dan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan berbagai aspek kehidupan seeprti pendidikan anak, kesehatan, pembangunan rumah layak huni, sosial budaya, dan bahkan pada saat krisis pangan ternaklah yang menjadi buffer. Kita belum membahas bagaimana multiflier effect yang disumbangkan sektor primer ini untuk menggerakkan sektor sekunder (industri pengolahan), dan tersier seperti jasa rumah makan dan perniagaan seperti pertumbuhan rumah makan dan restoran yang spektakuler. Secara kasat mata kita saksikan di sudut-sudut kota apakah itu bukan bahan baku utamanya disumbangkan pertanian, perternakan, perikanan? Mengapa kita yang memiliki segala potensi yang luar biasa ini kita tidak mengakui bahwa sesungguhnya hanya sektor pertanian, peternakan, dan perikanan yang menjadi sektor komparatif kita yang bisa memungkinkan kita bisa mengangkat muka dengan 34 propinsi lainnya, karena kita memiliki sumberdaya lokal yang tentu tidak banyak dimiliki propinsi lain.

Baca Juga:  Daftar Para Pemenang Lomba HUT Ke-20 Partai Demokrat Tingkat Provinsi NTT

Ataukah sedang berpikir memajukan NTT seperti pulau lain keunggulan komparatif lain seperti perkebunan dan kehutanan dan pertambangan, yang kalaupun bisa dikembangkan di NTT belum tentu menyentuh semua lapisan masyarakat. Oleh karena itu sub sektor peternakan di NTT, menurut saya, bukan tidak berkembang, tetapi yang benar, kita belum sadar untuk mendorong subsektor menjadi subsektor yang kompetitif, karena kita masih duduk manis merenung tentang gudang ternak yang selalu menjadi jargon politik dan kita lupa kita sementara menikmati kelezatannya untuk seluruh apsek kehidupan rakyat NTT.

Pertanyaan kritisnya mungkin bagaimana cara sehingga subsektor peternakan menjadi kompetitif, sehingga kelezatannya bertambah untuk dinikmati rakyat NTT. Tentu tidak ada cara lain kecuali semua pihak yang berkepntingan di wilayah ini saling terbuka dan meluangkan waktu untuk duduk ngopi darat dalam kerangka memikirkan soluasi untuk persoalan yang di hadapi daerah ini, tidak saja di bidang pertanian dan peternakan karena kalau kita buka data lagi aspek lainnya.

Saya meminjam istilah yang agak keren saat ini bahwa untuk kemajuan diperlukan kerjasama pentahelix (pemerintah, Perguruan Tinggi/Balitbang, industri, pemodal/swasta, masyarakat) harus mampu bersinergi untuk menyatukan berbagai kapasitasnya masing-masing. Pemerintah memiiliki kewenangan dalam regulasi dan anggaran, perguruan tinggi/Balitbang sebagai penghasil teknologi, industri sebagai pemilik fasilitas, pemodal/swasta memiliki finansial, dan masyarakat sebagai subyek pembangunan dan memiliki sumberdaya lokal.

Mudah-mudahan gaung Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) oleh bapak Menteri Nadiem Makarim tidak hanya untuk PT tetapi bisa menjadi gaung bersama oleh pihak-pihak di atas, sebagai jembatan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang unggul dan handal. Tentu saja PT sebagai pembelajar dan penghasil teknologi tidak bekerja sendiri untuk menghasilkan sarjana yang siap pakai ketika tidak ada kerelaan dan keterbukaan dari pemerintah daerah, pihak industri, pemodal/swasta untuk bersama PT dengan sumberdaya dosen dan mahasiswa dan bersama-sama masyarakat, dimana dosen dan mahasiswa mendapat pengalaman baik dari masyarakat dan dunia industri untuk pengembangan metode pembelajaran sesuai roh MBKM dan sebaliknya dunia industri dapat merekrut tenaga kerja sesuai penilaian objektif mereka dan masyarakat terbantu dalam memperoleh solusi teknologi untuk mengotimalkan sumberdaya yang mereka miliki. Kita berharap energi kita habis dalam konteks kerja sama penta helix bukan kerja masing-masing seperti yang selama ini yang selalu dianggap nyaman. Dengan semboyan BERBEDA UNTUK BERSATU DEMI KEBAIKAN BERSAMA, NTT BISA!! (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed