oleh

Kerja Sama Busuk Orang Dalam dan Orang Luar Picu Kredit Macet Bank NTT

Kupang, RNC – Belakangan ini Bank NTT dilanda persoalan kredit macet dengan nilai yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp 300 miliar lebih. Bank NTT sendiri telah menggandeng pihak Kejaksaan untuk mengatasi persoalan ini.

Kerja sama ini telah menampakkan hasil positif di mana dalam beberapa pekan terakhir, Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT telah menetapkan dan menahan delapan tersangka yang terlibat dalam kasus kredit macet di Bank NTT Cabang Surabaya tahun 2018 senilai Rp 126 miliar.

BACA JUGA: Kejaksaan Kembali Tangkap Buronan Korupsi Kredit Macet Bank NTT, Tiga Masih Diburu

Sesuai ketentuan Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, pemberian kredit atau pembiayaan harusnya didasarkan analisis mendalam terhadap kesanggupan debitur atau nasabah untuk mengembalikan pembiayaan dimaksud.

Selain itu, mengingat penyaluran kredit diperhadapkan pada risiko kemacetan, bank pada umumnya mewajibkan nasabah untuk memberikan jaminan atau agunan sebagai second way out agar tidak mengalami kerugian apabila nasabah wanprestasi. Lantas ada apa dengan Bank NTT sehingga mengalami kredit macet dengan nilai yang tidak sedikit?

Informasi yang diperoleh RakyatNTT.com dari salah satu pejabat di internal Bank NTT akhirnya menjawab pertanyaan di atas. Sumber itu menyebutkan, persoalan kredit macet di Bank NTT Cabang Surabaya, selain karena debitur wanprestasi, juga murni kesalahan di internal Bank NTT. Sebab ada sejumlah kelonggaran yang diberikan pihak bank tanpa memperhatikan risiko kredit macet.

Menurutnya, kredit tersebut disalurkan Bank NTT Cabang Surabaya di masa kepemimpinan Didakus Leba. “Adi Leba (Didakus Leba, red) berteman dengan anak SY, Stefanus Sulaiman yang kini menjadi tersangka. Anak muda inilah yang kemudian membawa orang-orang untuk kredit di Cabang Surabaya,” sebut sumber itu kepada RakyatNTT.com belum lama ini.

Dia menjelaskan, pinjaman diberikan untuk setiap debitur masing-masing sebesar Rp 10 miliar. Jika ada yang meminjam lebih, maka dibuatlah akad baru, namun nilai pinjamannya tetap sebesar Rp 10 miliar ke bawah. Ini dimaksudkan agar keputusan pemberian kredit hanya sampai pada Divisi Kredit, yang saat itu dikepalai oleh Beny Pellu.

“Untuk pinjaman Rp 10 miliar ke bawah, keputusannya hanya sampai di Beny Pellu selaku kepala divisi kredit. Tidak sampai ke direktur. Tapi direktur kredit harus monitor kredit yang keluar agar tahu kredit yang begini besar ke siapa-siapa saja dan jaminannya apakah sudah betul atau belum,” terangnya.

“Memang ada yang pinjam di atas Rp 10 miliar, tapi itu dipecah-pecah dengan memberikan dua jenis kredit, dua akad atau lebih, sehingga keputusannya hanya sampai di kadiv kredit,” sambung sumber itu.

Yang fatal dari penyaluran kredit ini, lanjut sumber itu, agunan yang menjadi jaminan semuanya tidak jelas. Ada yang tidak mencukupi sesuai dengan nilai plafon pinjaman, dan ada yang tidak diikat dengan akta notaris.

“Ini kelemahan yang terjadi di Bank NTT. Beri pinjaman ratusan miliar dengan mudah, tapi jaminan tidak diikat secara notaril dan tidak mencukupi nilai kredit. Kelonggaran seperti ini ada karena memang ada mafia dan kerja sama busuk antara orang luar dengan orang dalam,” jelasnya.

“Kita bersyukur karena pihak kejaksaan juga menyita harta para tersangka yang tidak dijaminkan untuk menyelamatkan bank dari kerugian yang besar ini,” pungkas sumber itu seraya menginformasikan bahwa Adi Leba dan Beny Pellu sudah dipecat oleh Plt. Dirut Bank NTT, Alexander Riwu Kaho.

Alexander Riwu Kaho saat dikonfirmasi, Selasa (7/72020) belum sempat merespon pertanyaan RakyatNTT.com terkait pemecatan Adi Leba dan Beny Pellu. Sama halnya dengan Alex, mantan Kadiv Kredit Bank NTT, Beny Pellu juga belum merespon niat baik RakyatNTT.com untuk mewawancarainya.

Sebelumnya, Alex yang ditemui wartawan usai rapat dengan Komisi III DPRD NTT, Rabu (1/7/2020), mengaku, Bank NTT mendukung proses hukum yang dilakukan Kejati NTT sehubungan dengan persoalan kredit macet di Bank NTT Cabang Surabaya. “Kami bersyukur dan berterima kasih kepada pihak kejaksaan. Luar biasa untuk kebaikan kita bersama,” ujar Alex saat itu.

Sementara Kepala Kejati NTT, Yulianto kepada wartawan, Senin (6/7/2020) mengaku, berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan Tim Penyidik Tipidsus, diketahui bahwa ada aliran dana untuk oknum pejabat Bank NTT. Namun Yulianto tidak membeberkan secara detail tentang identitas oknum pejabat Bank NTT tersebut.

BACA JUGA: Gubernur VBL Dukung Kejati Usut Kasus Kredit Macet di Bank NTT

“Dana memang ada yang mengalir ke oknum pejabat Bank NTT. Tapi sekarang belum bisa disebutkan siapa orangnya,” tandas Yulianto.

Untuk diketahui, mantan Kepala Bank NTT Cabang Surabaya, Didakus Leba alias Adi Leba, sudah ditahan oleh pihak Kejati NTT, Kamis (2/7/2020). Adi Leba ditahan setelah menjalani pemeriksaan dan ditetapkan sebagai tersangka. (rnc09)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed