oleh

Sosok Peter A. Rohi yang Berkeinginan Kenalkan Tanah Lahir Soekarno

Sabun Herbal Cyrus

Surabaya, RNC – Mengenang tokoh pers, Peter A. Rohi rasanya tak cukup diulas dalam sebuah babak tulisan. Karena terkenal gigih dan berani dalam membongkar ketidakberesan pemerintah, Peter kerap disebut sebagai ‘musuh’ Soeharto pada zaman orde baru.

Ketua IKA Stikosa-AWS, M Zurqoni yang merupakan sahabat Peter mengatakan saat itu memang mudah jika memilih jalan menjadi seorang kaya raya. Namun, Peter memilih jalan lain untuk menjadi manfaat bagi sesama dengan menerbitkan tulisan yang mengkritisi pemerintah.

BACA JUGA: Selamat Jalan Wartawan Senior Peter Rohi

“Menurutku Pak Peter itu seorang sufi kalau di Islam. Dia tidak mementingkan apapun kecuali kemanfaatan. Aku waktu cerita ini rada terharu, ya begitulah beliau itu musuhnya Soeharto tapi kalau dulu potensi untuk kaya raya itu sangat mudah. Tinggal kolaborasi sama Cendana sudah selesai. Tapi Pak Peter tidak begitu, dia memilih jalan yang dia yakini lebih manfaat,” kenang Zurqoni kepada detikcom di Surabaya, Rabu (10/6/2020).

Zurqoni tak habis pikir. Saat pertama berkunjung ke rumah Peter yang penuh dengan kesederhanaan. Dia tak menyangka sosok yang dekat dengan para tokoh nasionalis tinggal di sebuah gang kecil di Kampung Malang, Surabaya.

Zurqoni menambahkan pria kelahiran Pulau Sabu, NTT, 14 November 1942 ini tak pernah takut saat mendapatkan ancaman dari rezim Orde Baru. Peter merupakan sosok yang teguh pada pendirian.

“Rumahnya sempit di Kampung Malang Surabaya, kalau kita jalan masih masuk gang dan ya begitulah pilihan dia. Dia juga bisa bergaul dengan siapa saja, dengan tokoh nasional. Tapi ya begitulah tetap sederhana,” imbuhnya.

Peter juga memiliki keinginan kuat untuk mengenalkan tanah lahir Soekarno di Surabaya sebelum dia meninggal. Pada Orde Baru, Zurqoni mengatakan pemerintah saat itu menyebut Soekarno lahir di Blitar. Peter pun meyakini kelahiran Soekarno di Kampung Pandean, Surabaya berdasarkan riset panjang yang dilakukannya.

“Pengalaman pribadi, suatu hari saya diminta beliau membantu di Institut Soekarno. Berdasarkan riset beliau, Soekarno lahir di Surabaya, meskipun Orde Baru bilang di Blitar. Secara konsisten dia perjuangkan. Dia bilang ke saya ‘Zur, ini sebelum saya meninggal, saya harus kasih sesuatu bagi Soekarno, bagi Surabaya’,” ungkap Zurqoni.

Sebagai Soekarnois, Peter juga pernah menulis buku berjudul Soekarno Sebagai Manoesia dan Ayah Bunda Bung Karno. Namun, Zurqoni mengatakan Peter merupakan Soekarnois yang berjuang untuk meluruskan sejarah tanpa pamrih.

“Ketika semua orang ndak percaya Soekarno lahir di Surabaya, Pak Peter ngotot melakukan riset dan dia menapaktilasi di mana Soekarno sekolah mulai kecil, besar sampai meninggal. Dia soekarnois tanpa pamrih. Banyak yang mengaku Soekarnois tapi mencalonkan diri jadi bupati. Dia punya kesempatan itu tapi ndak mau,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Zurqoni menceritakan sekira tahun 2011, Peter pernah memintanya untuk ikut dalam seremonial napak tilas kelahiran Bung Karno di Pandean.

Zurqoni menyayangkan napak tilas tersebut ikut ditunggangi penumpang gelap yang berkepentingan. Namun lagi-lagi, Peter dengan legawa tidak mempermasalahkan hal ini selama sejarah Bung Karno bisa diluruskan.

“Waktu itu beliau bikin seremonial, meskipun awalnya nggak ada yang merespon tapi pada akhirnya ada yang merespon orang-orang PDIP. Saya diminta tolong itu kan prosesinya dari rumah beliau dan diarak dari Kampung Malang ke Pandean. Dia bilang ingin prosesi ini ada ikon Surabaya, misalnya kelompok remo yang menari selama perjalanan,” ujar Zurqoni.

Waktu itu Zurqoni menyanggupi dan menanggung biayanya. Namun di perjalanan napak tilas, dirinya banyak menemui spanduk partai yang bukan rencana Peter hingga ada penumpang gelap.

“Akhirnya saya tagihkan ongkos tari remo ke panitia, setelah lama saya ditelefon Pak Peter yang mengaku habis mengambil honor di Jawa Pos dan mengajak ketemu untuk menggantikan uang itu. Saya kaget kok sampai sebegitunya. Saya bilang banyak penumpang gelap, beliau tidak mempermasalahkan karena tugasnya adalah menaruh prasasti ini di kediaman Bung Karno,” kenang Zurqoni.

BACA JUGA: Sedih, Sudah 32 Dokter Meninggal Selama Pandemi Covid-19

“Jadi dia nothing to lose, sering kali dimanfaatkan, kalau dia dimanfaatkan kalau kita tidak mengambil untung dia senang, tapi kalau tetap ngambil untung dia sedikit kecewa tapi ya sudahlah dan dia lebih ikhlas,” tutup Zurqoni.

Kini, Peter telah tutup usia pada pukul 06.45 WIB di RS RKZ Surabaya. Peter meninggal akibat penyakit infeksi paru yang dideritanya. Pemakamannya dilakukan dengan protokol COVID-19.

(hil/fat/dtc/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed