oleh

Banjir di Sungai Nangagete, Siswa dari 2 Desa di Sikka Terpaksa Meliburkan Diri

Iklan Demokrat

Maumere, RNC - Ketika musim penghujan tiba, ketinggian air di Sungai Nangagete, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT, mengalami peningkatan bahkan sering terjadi banjir. Akibatnya, anak-anak sekolah terpaksa harus meliburkan diri lantaran tak bisa menyeberangi sungai itu guna menjalankan aktivitas pendidikannya di bangku SD hingga SMA.

Tercatat sekitar 20 siswa SD Inpres Blawuk, 15 siswa SMP Negeri 1 Talibura, serta 5 siswa Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) Nebe yang tak dapat mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolahnya jikalau terjadi banjir. Yang mana, kejadian tersebut sudah dialami oleh warga masyarakat di Dusun Wailoke, Desa Wailamun dan juga Kampung Wairbou, Desa Nebe selama puluhan tahun.

Iklan Dimonium Air

Menurut Marselina Yulianti, Guru SD Inpres Blawuk, Desa Nebe, anak-anak sekolah dari Dusun Wailoke, Desa Wailamun dan Kampung Wairbou, Desa Nebe sering terlambat bahkan tidak masuk sekolah jikalau terjadi banjir di Sungai Nangagete.

“Mereka sering terlambat masuk sekolah bahkan tidak masuk sekolah saat musim hujan dan ketinggian air di Sungai Nangagete meningkat atau sungai mengalami banjir,” ujarnya ketika ditemui RakyatNTT.com di sekolahnya, pada Jumat (5/11/2026).

Marselina menjelaskan bahwa jikalau musim hujan, anak-anak dari 2 kampung ini terpaksa harus berjalan kaki ataupun naik sepeda motor melewati jalan provinsi di sebelah barat kampung mereka, baru menuju sekolah di sebelah timur sejauh 3 Km lebih.

Kondisi seperti inilah yang menyebabkan anak-anak sekolah dari kedua kampung ini sering terlambat masuk ke sekolah. “Jadi kalau orang tuanya mau antar maka mereka ke sekolah, tapi kalau orang tua mereka tidak mengantar maka mereka tidak masuk sekolah atau meliburkan diri,” ucapnya.

Dikatakan Marselina, pihaknya juga tidak memberikan sanksi apabila para siswa itu terlambat bahkan tidak masuk sekolah. “Kami tidak memberikan sanksi dan memaklumi, sebab memang kondisinya seperti itu dan ini juga karena kondisi alam. Untuk jumlah siswa dari kedua wilayah ini sekitar 20 orang yang bersekolah di tempat kami,” sebutnya.

Baca Juga:  "Guru Favorit" Versi Siswa SMKN 3 Maumere

Kepala Sekolah SD Inpres Blawuk, Martinus Roi da Cunha mengharapkan semoga kondisi ini mendapatkan perhatian dari pemerintah dengan membangun jembatan gantung. Adanya jembatan gantung membuat anak-anak bisa berangkat ke sekolah dengan nyaman tanpa harus menyeberangi sungai, yang berpotensi terjatuh dan terbawa air.

“Adanya jembatan gantung membuat warga di dua kampung ini bisa lebih mudah beraktifitas karena mereka setiap hari harus ke Dusun Blawuk. Sehingga, anak-anak sekolah baik di SD maupun SMP dan SMA yang tinggal di dua kampung ini bisa bersekolah seperti biasa,” ungkapnya.

Sementara itu, Petrus Arivanto Nathan, Siswa Kelas 7E SMP Negeri 1 Talibura menuturkan bahwa selama musim hujan dan Sungai Nangagete banjir, maka dia bersama teman-temannya tidak pergi ke sekolah.

Menurut Petrus, setiap pagi semua anak sekolah dari SD, SMP dan SMA yang berasal dari Kampung Wairbou dan Dusun Waioloke harus berjalan kaki dari rumah mereka dan menyeberangi sungai. “Kami tidak pakai sepatu dari rumah dan setelah menyeberangi sungai baru pakai sepatu. Kalau air sungai tinggi kami harus pakai celana lain, nanti sampai di seberang sungai baru kami ganti seragam sekolah,” terangnya.

(rnc24)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed