oleh

Kembangkan Teknologi Smart Farming, Moeda Tani Farm di Sikka Dapat Bantuan 200 Juta dari BI

Iklan Demokrat

Maumere, RNC – Untuk mengembangkan Sistem Irigasi Tetes (Drip Irrigation System) Smart Farming, Kelompok Petani Milenial “Moeda Tani Farm” di Kabupaten Sikka mendapat bantuan dana dari Bank Indonesia (BI) NTT senilai Rp200.000.000.

Ketua Moeda Tani Farm, Yance Maring, kepada RakyatNTT.com, Rabu (29/9/2021), mengatakan teknologi yang digunakan adalah drip irrigation system yang didukung oleh Bank Indonesia. Menurut Yance, sistem teknologi terbaru dari Smart Farming yakni adanya semua fungsi pengendalian pengairan dan juga pemupukan secara otomatis.

Iklan Dimonium Air

“Ada sensor NPK, PH, kelembaban, suhu, water flow, water level, TDS dan prakiraan cuaca. Kemudian dari data itu akan dilock (dikunci) secara real time. Selanjutnya data dari itu, kita bisa download dan akan dijadikan basic data untuk evaluasi. Sehingga semua data itu dapat kita kontrol dan bisa download datanya,” terangnya.

Kemudian, lanjut Yance, dari sensor-sensor yang ada, bisa memberikan notifikasi untuk pemenuhan kebutuhan unsur hara air dan itu dilakukan secara otomatis. “Kalau Smart Farming yang lama itu hanya sebatas kontrol pengairan, sensor NPK, PH dan kelembaban. Dia hanya sebatas mendeteksi saja, tetapi tidak merekomendasikan untuk pemenuhan unsur hara dan air, sementara data-data itu juga tidak bisa kita ambil (download),” paparnya.

“Tapi untuk yang terbaru ini, kita bisa ambil dan copy datanya setiap saat. Jadi setiap hari kita bisa ketahui semua dengan penggunaan airnya, penggunaan kondisi unsur hara, NPK, PH, TDS dan prakiraan cuaca,” jelasnya.

Ia menyampaikan ungkapan terima kasih untuk Bank Indonesia Wilayah NTT yang telah memberikan support kepada mereka melalui bantuan dana senilai Rp200.000.000. “Kami dari Moeda Tani Farm mengucapkan terima kasih banyak kepada Bank Indonesia, yang telah mensuport dan membantu Smart Farming dengan nilai Rp200.000.000, di lahan kemitraan Closed Loop yang diinisiasi oleh Kemenko Perekonomian RI,” ungkapnya.

Baca Juga:  TPDI Soroti Pergantian Nama Unipa Maumere, Rektor Sebut Didorong oleh Menteri

Sebelumnya, Yuli Sri Wilanti, Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Holtikultura, Kemenko Perekonomian RI juga pernah mengemukakan konsep Closed Loop System, saat diskusi bersama para petani milenial di Kabupaten Sikka, pada Selasa (27/4/2021) lalu.

Menurut Yuli, Kemenko Perekonomian RI saat ini sedang melakukan pengembangan agribisnis holtikultura dengan menggunakan Inclusive Closed Loop System (Sistem Kemitraan Saling Menguntungkan).

Yang mana, Closed Loop tersebut merupakan sebuah sistem kemitraan yang mensinergikan rantai pasok pertanian terintegrasi dari hulu hingga ke hilir.

Dalam pola kemitraan ini, petani sebagai tokoh utama akan dihubungkan langsung dengan semua stakeholder. Sehingga, dapat berbagi peran dengan semua stakeholder yang ada, mulai dari penyedia benih, pupuk, perlindungan tanaman, melakukan pendampingan terhadap para petani, membiayai dan memberikan dukungan permodalan, serta siapa yang akan menjadi jadi off-taker.

“Intinya kita mau membangun ekosistem agribisnis holtikultura yang benar-benar dapat meningkatkan nilai tambah untuk para petani. Jadi kita ingin menggandeng mereka, karena di Kemenko Perekonomian ada Inclusive Closed Loop System itu,” katanya waktu itu.

Dirinya juga sangat memberikan apreasiasi terhadap penggunaan Sistem Irigasi Tetes. Karena menurutnya, inilah yang menjadi sebuah solusi dari kebutuhan para petani, yang memang mengalami kesulitan air, sehingga bisa melakukan budidaya dengan penghematan air.

Baginya, pengembangan teknologi pertanian seperti ini, perlu didukung di semua tempat, terutama di wilayah NTT. Untuk itu, dia pun mendorong para petani milenial, agar dapat melakukan budidaya tanaman dengan pemanfaatan teknologi.

Untuk diketahui, Kelompok Petani Milenial “Moeda Tani Farm”, memiliki anggota sebanyak lima orang yaitu, Yance Maring dan Hando Amando, jebolan Arava International Center for Agriculture Training (AICAT) Israel. Sementara, ada Petrus Efronsius Nong Lalan, yang merupakan Alumni Magang Pertanian Jepang.

Baca Juga:  Tingkatkan Kompetensi, Disparbud Sikka Latih 20 Pemandu Wisata Selam

Selain itu, ada juga Paulus Mike, lulusan Fakultas Pertanian Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Indonesia. Serta Chois Baga, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledelero, Kabupaten Sikka. (rnc24)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed