oleh

Masa Jabatan Fred Benu Segera Berakhir, Calon Rektor Undana Perlu Dipersiapkan Sekarang

Iklan Covid Walikota Kupang

Kupang, RNC – Calon Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), pasca kepemimpinan Rektor Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph.D yang akan berakhir pada 5 Desember 2021, harusnya sudah dipersiapkan sejak sekarang, agar semua warga kampus dan masyarakat NTT bisa menilai siapa sesungguhnya calon rektor Undana yang dipandang pantas memimpin Undana ke depan.

Hal tersebut diungkapkan Senat Guru Besar Senior FKIP Undana, Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum di sela-sela kegiatan penyamaan persepsi penilaian angka kredit dosen di L2Dikti 15 di Kupang, belum lama ini.

Iklan Dimonium Air

Menurutnya, sesuai aturan Permendikbud Nomor 19 Tahun 2017 (Pasal 6 dan 7) mengatur penjaringan calon rektor Undana dimulai enam bulan sebelum berakhirnya masa jabatan rektor. Enam bulan itu berarti dimulai bulan Juli hingga November 2021. Seharusnya panitia pemilihan rektor sudah harus bekerja mulai bulan Mei 2021. “Logika sehat kan seperti itu. Jadi awal Mei 2021 proses pembentukan panitia pemilihan rektor sudah harus berjalan. Jadi civitas akademika Undana menginginkan agar calon rektor Undana mendatang sudah harus dipersiapkan dari sekarang. Maksudnya adalah dengan persiapan tersebut, semua warga kampus maupun masyarakat NTT akan menilai dan memahami siapa calon rektor yang pantas, dan siapa yang kurang pantas pada waktunya untuk memimpin Undana,” kata mantan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Undana tersebut.

Prof. Simon Ola mengatakan, masuknya suara menteri dalam penentuan calon rektor tak perlu dikhawatirkan. Suara senat Undana tetap menjadi penentu siapa rektor Undana mendatang. Sebanyak 53 suara senat Undana saat ini, nantinya akan diberi porsi 65 persen. “Jadi menurut saya, ada beberapa guru besar dan doktor yang memiliki kemampuan manajerial yang tidak perlu diragukan,” ungkapnya.

Baca Juga:  6 Bakal Calon Rektor Undana Mendaftar, Panitia Segera Verifikasi Dokumen Persyaratan

Anggota senat Undana, Drs. Theo da Cunha, M.Si mengatakan, calon figur rektor Undana harus memenuhi syarat umum, selain beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Harus berstatus PNS, belum berusia 60 tahun pada saat dilantik.

BACA JUGA: Catat Sejarah, Dr. Reny Masu jadi Dekan Perempuan Pertama di FH Undana

Ia menambahkan, rektor Undana mendatang harus memiliki integritas pribadi dan kemampuan akademik, dan memiliki jejaring yang luas untuk bisa membangun jaringan di tingkat nasional dan internasional.

Soal figur rektor, katanya, di Undana banyak doktor yang memenuhi syarat, tetapi pangkat jabatan akademik banyak yang belum Lektor Kepala. Masih dominan Lektor saja. Tetapi ada beberapa doktor yang sedang menjabat memenuhi syarat. Namun, menurutnya, lebih bagus lagi rektor Undana ke depan sebaiknya memiliki standing akademik tertinggi yaitu guru besar atau profesor. “Jadi yang lebih penting itu adalah figur rektor ke depan memiliki visi-misi untuk membangun Undana. Paling tidak bisa sejajar dengan Universitas Mataram. “Jadi harapan saya adalah para guru besar atau profesor yang memenuhi syarat agar dapat mencalonkan diri sebagai calon rektor dalam bursa calon rektor Undana yang akan datang,” katanya.

Beberapa mahasiswa semester akhir dari beberapa fakultas berbeda di lingkungan Undana yang dimintai pendapat soal sosok yang pantas menjadi Rektor Undana ke depan menghendaki agar rektor baru nanti harus memberikan keleluasaan kepada mahasiswa untuk bersuara terhadap kebijakan kampus yang tertutup selama ini. “Dan yang paling penting, Undana harus dipimpin oleh dosen yang bergelar akademik tertinggi yaitu profesor dan doktor agar bisa dekat dengan mahasiswa,” ungkap Lexy, salah satu mahasiswa.

Beberapa tokoh masyarakat dan alumni Undana juga berharap siapa pun yang terpilih nanti menjadi calon rektor Undana, harus yang terbaik. “Saya punya pengalaman yang sangat menyedihkan. Satu waktu saya mengantar anak saya ke kampus Undana, tetapi dilarang oleh satpam tidak boleh masuk kampus, karena saya memakai celana pendek. Saya sedih sekali karena anak saya turun di gerbang Undana lalu jalan kaki masuk kampus yang jaraknya cukup jauh. Padahal saat itu anak saya sakit demam. Jadi, atas kejadian ini, sebagai masyarakat, tentu sangat kecewa dan prihatin terhadap kebijakan pimpinan Undana seperti itu,” ungkap Sefnat, salah satu warga kepada media ini. (*/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed