oleh

Cerita Lengkap Paulus Yulius Kollo yang Namanya Ada di Manifes Sriwijaya Air SJ-182

Pontianak, RNC – Paulus Yulius Kollo (24) dan Indra Wibowo (21) batal terbang menumpangi pesawat Sriwijaya Air SJ182 dengan rute Jakarta-Pontianak karena terbentur syarat menunjukkan hasil tes usap (swab test). Keduanya mengungkap cerita hingga akhirnya batal naik Sriwijaya Air SJ182.

Indra mengaku sudah dua kali ke Pontianak. Indra dan Paulus sama-sama ingin pergi ke Pontianak untuk bekerja.

Mereka awalnya berangkat bersama empat orang lainnya dari Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka membeli tiket Sriwijaya Air SJ182 dengan rute transit di Jakarta.

“(Beli tiket) Di Makassar tanggal 4 Januari, (tujuan) langsung ke Pontianak,” kata Indra kepada wartawan, Rabu (13/1/2021) dilansir dari detikcom.

BACA JUGA: Sejoli Asal Ende Penumpang SJ182 Tetap Disantuni Jasa Raharja

Indra tidak banyak bicara ketika diwawancara. Dia mengaku masih terkejut atas kabar pesawat yang sedianya ditumpanginya tersebut terjatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1) lalu. Dia juga kaget namanya masih ada di dalam manifes penumpang Sriwijaya SJ181.

“Sangat bersyukur kepada Tuhan masih diberi kesempatan,” ungkap Indra.

Cerita selanjutnya disampaikan Paulus. Dia mengatakan tiket Sriwijaya Air tujuan Pontianak telah dibeli untuk penerbangan pada Senin (4/1). Mereka diagendakan transit terlebih dulu di Bandara Soekarno-Hatta sebelum melanjutkan penerbangan ke Pontianak.

“Rencananya kita beli tiket tujuan Pontianak, transit Jakarta. Waktu dari Makassar tanggal 4 (Januari) jam 5 sore, tiba di Soekarno-Hatta Jakarta pukul 7 malam. Tapi karena transitnya dia 1 malam, kita menginap di rumah keluarga dulu,” kata Paulus.

“Besok subuh jam 3, kita berenam berangkat ke bandara, mau ke sini (Pontianak), lanjut transit yang kemarin. Waktu sampai di bandara sempat ditahan orang Sriwijaya. Karena dari berdua cuma tes antigen biasa, sementara kebijakan Pemprov Kalbar harus tes swab,” sambungnya.

Paulus mengaku sempat cekcok saat dilarang melanjutkan perjalanan ke Pontianak. Empat rekan Paulus dan Indra boleh melanjutkan perjalanan.

“Dari mereka ada yang datang, kasih jalan tengah, 4 orang yang sudah swab lanjut saja. Sementara kami berdua di reschedule ke tanggal 9 (Januari). Jadi bos dan 3 orang lanjut ke Pontianak. Kami berdua kembali ke tempat keluarga di Jakarta,” kata Paulus.

Paulus mengaku sempat mengecek harga swab test. Namun, menurutnya, harga swab test lebih mahal dibanding harga tiket pesawat.

“Jadi kebijakan wajib swab test sebelum masuk Kalbar, ternyata diperpanjang lagi dari 9 sampai 28 Januari. Jadi bos suruh saya sama Indra untuk cek harga kesehatan. Sampai di RS, harganya bervariasi. Untuk yang 3 hari, harganya Rp 1,3 juta. Yang instan, 6 jam langsung ambil harganya Rp 2,6 juta, dikali dua jadi Rp 5,2 juta. Jadi lebih mahal kesehatan daripada harga tiket,” ungkapnya.

Setelah itu, Indra dan Paulus diminta membeli tiket kapal laut. Mereka lalu pergi ke Pontianak dengan menggunakan kapal laut dari Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Dia mengaku selama dua hari di tengah laut, ponselnya tak menerima sinyal. Begitu kapal hendak tiba di Pontianak, ponselnya mulai menerima sinyal komunikasi.

“Tanggal 8 (Januari) sekitar jam 5 sore, kapalnya berangkat dari Tanjung Priok. Kita sampai tanggal 10 (Januari). Jadi selama 2 hari di kapal, kita nggak terima sinyal. Tapi tanggal 9 malam, kita dengar kabar di kapal bahwa ada pesawat yang jatuh. Hampir sampai pelabuhan, mulai berita masuk ada pesawat jatuh. Lalu lihat ada nomor telepon keluarga, saya juga kaget,” ceritanya.

Paulus mengatakan namanya masih ada di dalam manifes. Dia bersama Indra mengaku tak pernah membatalkan atau mengkonfirmasi kepada Sriwijaya Air.

“Tiketnya yang kami booking juga hangus. Kami tidak tarik kembali uang, kami juga berangkat dengan kapal, kami tidak konfirmasi juga ke Sriwijaya. Jadi setahunya orang, kami naik pesawat karena tiket kami masih hidup. (Pembatalan) nggak ada kabar. Tiket itu tetap jalan tapi hangus,” kata dia.

Sebelumnya, pesawat Sriwijaya Air nomor register PK-CLC rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu (9/1), sekitar pukul 14.40 WIB. Pesawat tersebut dinyatakan jatuh di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 mil laut di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah melewati ketinggian 11 ribu kaki. Pesawat tinggal landas pukul 14.36 WIB atau mundur dari jadwal karena faktor cuaca.

Berdasarkan data manifes penerbangan, pesawat yang diproduksi pada 1994 itu membawa 62 orang, yang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, dan 3 bayi. Sedangkan 12 kru terdiri atas enam kru aktif dan enam kru ekstra.

Saat ini petugas gabungan masih melakukan pencarian terhadap korban. Dokter kepolisian juga sedang mengidentifikasi bagian tubuh korban yang ditemukan oleh petugas. Tim DVI RS Polri telah mengungkap identifikasi 4 korban.

(*/dtc/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed