oleh

LOPER KORAN DI UJUNG SENJA

Iklan Demokrat

SELEPAS salat Subuh, Subur, 52 tahun, bergegas mengganti pakaiannya. Ia mengenakan kaus lengan panjang, celana kasual, dan rompi berwarna biru. Tak lupa sepatu kets, topi, dan masker juga dikenakannya. Begitu jarum jam menunjukkan pukul 05.00 WIB, Subur meninggalkan rumahnya di kawasan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat.

Dengan langkah kaki yang mantap, Subur menyusuri jalan sepanjang 3 kilometer menuju Kramat, Jakarta Pusat. Saban hari, ia berangkat dari rumah menuju agen distributor koran di tempat itu. Ia mengambil beberapa koran terbitan terbaru untuk dijual kembali di Simpang Lima Senen, Jakarta Pusat. Rutinitas itu telah ia lakoni sejak tahun 2000.

Iklan Dimonium Air

Dari agen, Subur melangkah ke Simpang Lima Senen, yang jaraknya sekitar 200 meter. Tepat pukul 06.00 WIB, Subur sudah mengasongkan koran dagangannya kepada orang yang mulai ramai berlalu lalang. Koran seperti Kompas, Media Indonesia, Warta Kota, Pos Kota, Rakyat Merdeka, Lampu Hijau, dan Super Ball diasongkannya kepada para pengguna sepeda motor dan mobil yang berhenti di lampu merah, tak jauh dari Plaza Atrium.

“Saya jualan di lampu merah Senen ini sampai pukul 12.00 WIB. Habis Zuhur pulang. Kadang kalau lagi bagus, pukul 10.00 WIB sudah pulang,” ucap Subur saat ditemui detikX di perempatan Senen, Rabu, 23 Juni 2021.

Subur adalah satu dari segelintir loper yang masih berjualan koran hingga saat ini. Belakangan ini, semakin sulit saja melihat loper koran di jalan-jalan Ibu Kota atau berkeliling ke perkampungan penduduk. Agen-agen koran, tabloid, dan majalah pun sama. Mereka juga semakin jarang dijumpai.

lop 2 g7h1vk
Seorang penjual koran tengah beristirahat dan tertidur di sela-sela aktivitasnya berjualan koran di kawasan Senen, Jakarta Pusat.
(Foto: Syailendra Hafiz). Wiratama/detikX

Meredupnya loper dan agen itu tak lepas dari bergugurannya surat kabar dan majalah cetak sejak hadirnya era digital. Digitalisasi telah mengubah perilaku pembaca berita, dari sebelumnya media cetak ke media digital. Sejumlah koran dan majalah cetak terpaksa menutup operasionalnya karena pendapatan iklan terus merosot. Sebagian harus beralih ke platform digital untuk bertahan.

Pada 2019, berdasarkan data Serikat Perusahaan Pers (SPS), terdapat penurunan pertumbuhan media cetak di Indonesia dibandingkan tahun 2014. Jumlah surat kabar harian menurun dari 418 ke 383, surat kabar mingguan turun dari 218 ke 77, majalah turun dari 449 ke 111, dan tabloid turun dari 236 ke 73. Secara total, jumlah media cetak turun dari 1.321 (2014) ke 644 (2019). Lantas, oplah media cetak tinggal 12,8 juta juta eksemplar pada tahun 2019. Jumlah itu turun sekitar 5 juta eksemplar dari 2014 sebesar 23,3 juta eksemplar.

Baca Juga:  Pendaftaran Calon Anggota Dewan Pers Periode 2022-2025 Dibuka, Berminat?

Ditanya apakah masih ada yang membeli korannya setiap kali berjualan, Subur menjawab pasti ada saja. Hanya, menurutnya, sebagian pembeli membeli korannya juga karena merasa iba, di samping mereka memang masih mengandalkan koran untuk mencari berita. “Pasti ada, cuma sedikit. Karena orang kasihan saja,” cetus Subur.

Setiap hari Subur membawa 40-50 eksemplar koran dengan harga jual per koran Rp 2.000-5.000. Koran yang tak laku biasanya ia jual seharga Rp 1.000 per eksemplar kepada tetangga dan pedagang di pasar. Biasanya koran bekas dijadikan pembungkus barang-barang belanjaan. Sebagian lainnya untuk kebutuhan pengecatan mobil oleh bengkel cat kendaraan yang berjejer di seputar Jalan Salemba dan Jalan Kramat.

Keuntungan yang bisa dibawa pulang Subur dari menjajakan koran sebesar Rp 30-50 ribu. Ia bilang keuntungan yang didapat itu jauh melorot dibandingkan pada sekitar tahun 2013. Pada waktu itu, ia bisa menjual hampir lebih dari 100 eksemplar koran atau tabloid dalam satu hari. “Lebih. Bisa jutaan rupiah per bulan dulu. Sekarang mah bersyukur saja. Kalau diceritain, sedih,” katanya.

Namun, Subur tetap merasa beruntung. Sebab, penghasilannya dari menjajakan koran masih cukup untuk menghidupi istri dan anak-anaknya di Pemalang, Jawa Tengah. Anak pertamanya juga sudah bisa membantu mencari nafkah dengan bekerja di sebuah pabrik di kampung halaman. Ia sendiri kadang nyambi sebagai kuli bangunan untuk menambah penghasilan. “Harapannya, anak-anak saya jangan kaya gini. Saya saja yang berjuang kaya gini,” ucapnya.

Di Ibu Kota, Subur awalnya berjualan di pasar dan sempat bekerja di bengkel mobil pada tahun 1982. Baru pada tahun 1990, ia beralih profesi menjual koran. Ia pernah beberapa kali dikejar-kejar polisi saat berdagang koran, terutama ketika banyak koran memuat berita yang mengkritisi atau menyudutkan kebijakan pemerintah pada saat itu. “Saya tiga kali ketangkap. Di Senen saya kabur, saya ngumpet di pedagang siomai. Kalau polisi pulang, saya pulang. Dulu kan masyarakat nggak boleh melek politik, sekarang sudah pada ngerti, dulu mah ketat,” kenang Subur.

Baca Juga:  Kreatif, Kemenkominfo Jangkau Kaum Millenial Kawasan 3T lewat Kampanye Video

Karena sering dikejar-kejar aparat, akhirnya Subur vakum berjualan koran pada tahun 1992-1998. Ia sempat bekerja serabutan, bahkan sempat bekerja mencari barang-barang bekas, terutama aki bekas di seputaran Plaza Atrium, yang memang menjadi sentra onderdil kendaraan bermotor. Pekerjaan itu dia tekuni selama setahun. “Di Atrium nyari barang bekas, aki bekas. Saya freelance kerja di toko aki, cuma nggak dibayar, cuma dikasih makan. Setahun bosen, saya keluar saja,” terang Subur.

Tahun 2000, Subur memutuskan berjualan koran kembali. Lengsernya Soeharto membawa suasana kebebasan bagi media. Koran dan majalah booming. Subur mengambil koran atau tabloid dari beberapa agen distributor di sekitar Kramat. Langganannya pun berjibun di sejumlah perkantoran. Selain itu, ia menjajakan koran di jalanan. “Dulu Pertamina sini ada 10 orang, sekarang sudah handphone semua. Kadang kalau sekarang suka ngasih (uang) sih buat ngopi,” ucap Subur tertawa.

Masa kejayaan berjualan koran dirasakan Subur dari 2003 hingga 2013. Penerbit koran bersaing sangat ketat dalam merebut pembaca. Para loper dan agen koran, termasuk Subur, kerap menjadi rebutan penerbit dengan memberi iming-iming hadiah dan bonus. Mereka juga di-briefing tentang strategi penjualan biar cepat laris. Mulai uang, baju rompi, dan barang lainnya selalu diberikan oleh para penerbit walau berbeda jumlahnya.

“Terus yang royal, Koran Jakarta, royal tuh. Korannya gratis 20 eksemplar. Ada gajinya. Setiap minggu sekali ada reward Rp 25 ribu. Udah koran gratis, dapat duit juga Rp 25 ribu. Dulu ada koran ngasih THR lumayan, Indomie satu dus, biskuit. Sarung juga agen-agen dikasih. Sekarang udah nggak ada,” pungkasnya.

Makin suramnya penjualan koran, tabloid, dan majalah juga dirasakan oleh Darni, 55 tahun, dan Nenah, 48 tahun, pasangan suami-istri yang menjadi agen koran kawakan di depan ruko di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat. Jumlah pembeli dan pengecer korannya kini makin menciut.

Baca Juga:  Ekonomi Digital Indonesia Diprediksi Tumbuh 8 Kali Lipat hingga Tahun 2030

Pelanggan Darni dan Nenah biasanya perkantoran swasta dan BUMN, seperti Pertamina, PLN, dan markas TNI Angkatan Laut. Dulu mereka berlangganan bermacam-macam koran, tapi sekarang ini hanya berlangganan satu sampai tiga judul koran dalam sehari. “Kantor BUMN pemerintah kayak Pertamina, PLN, TNI AL itu masih langganan. Swasta ada beberapa. Sisanya loper-loper saja masih adalah 5-10 orang yang langganan. Perusahaan-perusahaan itu masih mengambil, cuma sedikit,” ungkap Nenah kepada detikX, Kamis, 24 Juni 2021.

whatsapp image 2021 06 28 at 14.58.12 ityr4c
Nenah, seorang agen penjualan koran dan majalah di Kramat Raya, Senen, sedang menunggu koran-koran yang dijualnya.
(Foto: Syailendra Hafiz Wiratama/detikcom).

Darni dan Nenah berjualan koran sejak 1999 di Jakarta. Tapi baru pada 2000-an awal menjadi agen hingga sekarang. Mereka membuka lapak sejak pukul 04.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB. Dulu mereka mengambil koran di percetakan di kawasan industri Pulogadung, Jakarta Timur, dan tempat lainnya sejak pukul 02.00 WIB. Tapi koran-koran itu sekarang diantar kendaraan distributor ke lapaknya.

Menurut Nenah, persaingan antar-agen juga tak seketat dahulu. Saat masih banyak koran, ada 15-an agen yang berjualan di sepanjang kawasan Pasar Senen sampai Jalan Raya Kramat. Kini yang tersisa tinggal tiga agen.

Dulu omzet Darni dan Nenah per bulan sebesar Rp 10-15 juta. Ke Pertamina saja, Nenah menyebut bisa memasok koran dengan nominal pembelian Rp 10 juta untuk satu bulan. Sekarang ia hanya mendapatkan pembelian Rp 3 juta dari Pertamina.

“Dulu ibaratnya tidur saja saya udah digaji. Iyalah, Rp 12 juta sebulan mah dapet itu,” imbuh Nenah sambil duduk di depan koran-koran yang ia jual pada hari itu. “Dulu koran masih banyak.Tahun 1985-2000 masih mendingan,” cetus Nenah.

Lagi-lagi, menurut Nenah, faktor paling besar yang mempengaruhi omzet penjualan koran adalah kedatangan teknologi digital, dan terutama telepon pintar. Teknologi itu telah menyebabkan jumlah koran menyusut drastis. Di satu sisi, koran bekas makin kecil nilainya. “Harganya jatuh,” katanya. (detikcom)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed