oleh

Sejarah Suku Korbaffo di Rote Masuk ke Pulau Timor

PAGI itu, tepat pukul 09.00 wita, sang surya mulai membakar terik. Hawa dingin masih terasa menggigit kulit yang terbungkus jacket biru yang saya kenakan. Memilih berjemur sebentar di matahari untuk melawan angin sepoi bercampur suhu sekitar 20 derajat celsius adalah salah satu pilihan.

Sekitar 20 menit berlalu baru tiba di Desa Sainoni, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Sebuah desa di dataran tinggi di pojok perbatasan RI dan District Oecusse-RDTL. Jarak Kota Kefamenanu ke desa tersebut memakan waktu sekitar 45 menit. Melewati jalur berkelok dihiasi panorama alam yang unik.

banner BI FAST

Hari itu, Jumat, 6 Agustus 2021. Saya akan mengikuti acara pendinginan rumah adat Suku Korbaffo, Ume Nai Bansone, yang dilaksanakan 5 tahun sekali. Sebelum acara adat dimulai, keluarga masih berkumpul di kediaman Bapak Bonevantura Corbaffo. Suasana kebersamaan cukup kental dengan saling menyuguhkan sirih-pinang. “Heo, mpaek masker,” ujar seorang ibu kepada para pria paruh baya yang sedang berkumpul itu.

Suasana sontak cair dengan dentuman lagu John Seme berjudul Nusa Rote dan Mana Lolo Banda. Senyum dalam suasana kebersamaan itu masih terbungkus dalam balutan masker menutupi hampir setengah wajah mereka yang mulai berdatangan. “Kemarin (Kamis) dari Oecusse ada yang sudah datang duluan. Karena Covid jadi kami bagi shift,” kata Bonevantura Corbaffo.

Jarum jam menunjuk pukul 12.10 wita. Satu per satu mulai berjalan menuju rumah adat yang terletak persis di samping kantor Desa Sainoni. Di sana ibu-ibu dengan kaki telanjang berikatkan giring-giring di pergelangan kaki sudah menunggu. Ada yang sibuk memukul gong. Ada pula yang mulai mengantar babi untuk disembelih. Tua-muda, anak-anak, para lelaki dan ibu-ibu duduk mengikuti tahapan acara adat dengan saksama.

Baca Juga:  Cabor Voli Putra: Menang Dramatis atas TTU, Ende Juarai Grup B

“Tahun ini untung ada Covid jadi tidak banyak orang. Hari ini ada babi 5 ekor dan sapi satu ekor. Ada yang sudah datang tanggal 22 dan 23 Juli (2021). Nanti ada lagi di tanggal 5 September,” kata Mundus Corbaffo.

Acara adat pun dimulai dengan beberapa tahap. Mulanya penjaga rumah adat mempersilahkan a pin paku dan a hoit aij atau orang yang membakar lampu dan orang yang membuat api masuk ke rumah adat.
Setelah itu, mereka keluar dan memanggil para tokoh adat atau yang memegang kunci rumah adat bahwa semua sudah dipersiapkan, untuk kemudian melanjutkan ritual selanjutnya.

Para tokoh adat yang berdiri saat itu ada delapan orang. Mereka merupakan garis keturunan Korbaffo yang berkembang di TTU. Mereka adalah Yakobus Corbaffo, Vincentius Corbaffo, Yakobus Toe Corbaffo, Bonevantura Corbaffo, Socimus Corbaffo, Fridus Corbaffo, Rofinus Corbaffo dan Timotius Corbaffo.

Tutur adat (Natoni) pun dilakukan dengan maksud memberitahukan kepada para leluhur bahwa para anak cucu telah datang untuk makan bersama. Hewan yang telah dibawa kemudian dimasukkan satu persatu ke dalam rumah adat untuk disembelih. Sebelum masuk ke rumah adat, akan dilakukan penyembelihan satu ekor babi di depan Hau Monef (Kayu bercabang tiga yang ditancap di depan rumah adat). Kayu itu melambangkan alam semesta. Berjenis ekaliptus yang mampu bertahan selama 10 tahun. Cabang yang tinggi melambangkan Tuhan, kemudian yang sama rata itu melambangkan pemerintah dan adat.

“Hau Monef itu lambang bahwa kita hidup di alam ini harus menjaga keseimbangan antara Tuhan, Pemerintah dan Alam,” jelas Mundus Corbaffo.

Menurut kepercayaan leluhur, kata Mundus Corbaffo, ketika menjaga keseimbangan antara Tuhan, Pemerintah dan Alam maka akan tercipta kehidupan yang aman, sejahtera dan damai. “Setelah kita membunuh hewan, kita memohon kepada yang Maha Tinggi melalui leluhur kita. Filosofi dari adat ini bahwa Tuhan itu kita tidak sanggup untuk berkomunikasi, harus berkomunikasi melalui leluhur kita,” ungkapnya.

Baca Juga:  Cabor Futsal Dikuasai Kota Kupang, Sikka dan TTU

“Jauh sebelum perjanjian baru menyebar, agama belum menyebar ini pegangan hidup leluhur kita bahwa kita ini manusia yang tidak sanggup dan tidak mampu untuk berhadapan dengan a Pinat a Kla’at, a Moet a Pakaet, artinya yang menyala dan membara yang mengukir dan melukis manusia, yaitu Allah,” jelasnya.

Tampak ada pula satu kayu bercabang tiga berukuran kecil setinggi kurang lebih satu meter yang juga ditancap di depan rumah adat tersebut. Kayu itu disebut a Pean (yang memecah), a Likin (yang Menetas) atau yang menyebarkan keturunan. “Kayu cabang tiga yang kecil ini adalah kami punya leluhur pertama yang dikuburkan jauh. Karena ketika jaman peperangan dibunuh dan dipotong kepalanya kemudian kepalanya dibawa sementara badannya dikubur. Jadi orang yang mati karena dibunuh atau kecelakaan tidak boleh dimasukan ke dalam rumah adat,” jelasnya.

A Pean, a Likin itu adalah dua orang lelaki bersaudara yang datang ke pulau timor. Yang pertama atau yang sulung ada di Oecusse dan putera yang kedua adalah yang memilih datang ke Kabupaten TTU.

Dikisahkan bahwa leluhur Suku Korbaffo berasal dari Kabupaten Rote Ndao, yaitu dari Keturunan Raja Manubulu. Korbaffo adalah nama satu tempat atau wilayah tepatnya di Kecamatan Pantai Baru. Wilayah Korbaffo konon khabarnya diselimuti oleh petak–petak sawah yang luas membentang dan ribuan pohon kelapa yang tidak pernah lelah memberikan buah. Marga Korbaffo yang berada di Oecusse menggunakan kata Corbaffo lantaran dipengaruhi dengan dialek Portugis.

Sementara itu di dalam rumah adat terdapat sejumlah benda sakral. Yang paling utama itu adalah kelewang. “Dari ceritera turun temurun kelewang ini dibawa dari Rote. Ketika mereka keluar dari Rote hanya mencabut isinya sementara sarungnya tertinggal. Ketika sampai di Oepoli baru dibuatkan sarung baru. Kemudian ke Oekusi. Tetapi dari Oekusi ke TTU hanya membawa isinya tetapi sarung tertinggal, kemudian baru dibuat duplikat di TTU,” jelas Mundus Corbaffo.

Baca Juga:  Desa Noebaun di TTU Dibantu Bank NTT, Kembangkan Pertanian Beromzet Puluhan Juta Sekali Panen

“Pada tahun 1998 kelewang ini sempat dicuri kemudian dibawa lari. Namun atas kesepakatan bersama maka dibuat kembali duplikat kelewang yang sama persis. Tapi bukan asli lagi,” tuturnya.

Tahap terakhir yang dilakukan adalah Nau (Raut) Tekes (Sesajian). Setelah hewan kurban yang disembelih dibakar, lalu kemudian dihidangkan dengan nasi putih. Tradisi tersebut adalah proses makan adat yang tidak menggunakan bahan kimia. Disajikan di atas nyiru kemudian dicicipi bersama. Diwajibkan makan sampai habis.

Menurut Bonevantura Corbaffo dan Mundus Corbaffo, pada masa eksodus pertama Timor Timur ke Indonesia suku Korbaffo sebagian datang ke Sainoni. “Ketika suasana sudah aman ada yang kembali namun ada satu putra namanya Tanes Jua, kemudian melahirkan Oba Tanesib kemudian melahirkan dua orang putra yakni Poe Oba dan Neno Oba. Barang-barang adat mereka yang mempunyai kekuatan mistis disimpan di rumah adat ini,” jelasnya.

(*/rnc17)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed