oleh

Ahli Epidemiologi: Menerapkan Protokol Kesehatan di Kerumunan Itu Sulit

Jakarta, RNC – Kerumunan adalah sesuatu yang harus dihindari saat ini, di tengah pandemi Covid-19 yang penularannya sangat masif antarmanusia. Di tengah kerumunan, seperti di pasar, konser, atau pesta, protokol kesehatan akan lebih sulit untuk diterapkan.

Ahli Epidemiologi Universitas Udayana Bali, Prof Dr. DN Wirawan menjelaskan dari pengalaman di berbagai negara di dunia, menunjukkan bahwa protokol kesehatan sulit diterapkan pada kerumunan manusia, baik pada kerumuman kegiatan ekonomi, sosial, agama, dan lainnya.

BACA JUGA: Urutan 6 Dunia, Tingkat Kematian COVID-19 di RI Kini di Atas AS

“Kerumunan ekonomi yang agak menonjol di Denpasar, Bali, maupun Indonesia adalah kerumunan di pasar tradisional, baik kerumunan antarpedagang maupun pembeli, termasuk pasar tumpah dan pedagang bermobil, kondisi ini wajib mendapatkan perhatian serius, karena adaptasi kebiasaan normal era baru bukan berarti normal seperti dahulu sebelum ada Covid-19. Ada protokol kesehatan yang harus tetap diterapkan dengan disiplin dan menjadi perhatian bersama, tidak bisa seperti dulu lagi,” ujar Wirawan di Denpasar, Jumat.

Ia menjelaskan untuk pasar tradisional, pasar tumpah, dan pedagang bermobil hambatan utamanya adalah karena ruang atau tempat yang sangat terbatas, sedangkan jumlah pedagang sangat banyak. Ini adalah kendala atau hambatan yang paling pelik dicarikan jalan keluarnya. Dengan demikian, protokol kesehatan yang paling sulit adalah mengatur jarak antarpedagang dan juga pembeli.

“Terlebih dengan dinyatakan bahwa virus SARS-CoV-2 bisa menular melalui udara, maka jarak antarpedagang dan juga pembeli harus lebih jauh dari yang ditetapkan selama ini,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.

Wirawan mengatakan bahwa tidak mudah membuat keseimbangan antara aspek ekonomi dan aspek kesehatan. Bila ruang yang tersedia cukup memadai, maka pengaturan jarak antarpedagang akan lebih mudah. Jika tambahan ruang tidak memungkinkan, maka satu-satunya jalan keluar adalah dilakukan pengaturan oleh pemerintah, termasuk jika pemerintah menyediakan lokasi yang tidak melanggar aturan yang berlaku, semisal Perda atau aturan hukum lainnya.

Dikatakan, di beberapa tempat di Indonesia, jarak antarpedagang diisi pembatas atau partisi. Protokol kesehatan lainnya yang lebih mudah diimplementasikan adalah mengawasi secara terus menerus pemakaian masker dan face shiled bagi pedagang maupun pembeli.

“Berbagai kebijakan pasti menimbukan pro dan kontra, tetapi bila tidak diatur, maka kerumunan akan tetap terjadi dan pandemi Covid-19 tidak akan ada akhirnya dan masalah yang dihadapi seluruh masyarakat Bali akan semakin lama karena matinya sektor pariwisata sebagai tumpuan utama perekonomian Bali hingga saat ini,” ucapnya.

BACA JUGA: Wali Kota Jeriko Bersyukur Angka Kesembuhan Covid-19 Terus Naik

Wirawan menyarankan bahwa pengaturan yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mencarikan tempat bagi pedagang tumpah dan pedagang bermobil, dan mengatur mereka secara bergiliran untuk berjualan sehingga jumlah pedagang menjadi lebih sedikit dan jarak mereka bisa diatur menjadi lebih renggang.

“Cara kedua adalah dengan melakukan surveilens di pasar-pasar tradisional yaitu melakukan tes Covid-19 secara berkala sehingga segera bisa diketahui bila ada pedagang yang terinfeksi virus SARS-CoV-2. Selain cara-cara di atas, saya belum melihat solusi lainnya,” pungkas Wirawan.
(suara.com/rnc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed