oleh

Banjir di Kaki Gunung Inerie Telan Korban Jiwa

Iklan Demokrat

Bajawa, RNC – Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Inerie Kabupaten Ngada dan sekitarnya selama seharian, Jumat (3/9/2021) kemarin, membawa petaka. Di Kampung Malapedho, Desa Inerie, banjir besar di kali Waesugi mengakibatkan rumah penduduk terendam lumpur.

Banjir besar yang mengalir dari arah kaki Gunung Inerie juga mengakibatkan seorang bocah perempuan meninggal dunia. Korban bernama Milka (4 tahun), buah hati pasangan Us Sipa dan Ani Meo.

Iklan Dimonium Air

Selain bocah perempuan yang sudah dipastikan meninggal dunia, sepasang suami istri (keluarga muda) dari desa yang sama juga dikabarkan hilang dan belum ditemukan hingga saat ini.

Informasi yang diperoleh RakyatNTT.com dari beberapa warga via messenger menyebutkan, banjir datang tiba-tiba sekira pukul 22.00 WITA. Selama ini, kali tersebut kering. Bahkan saat musim hujan pun, debit air yang mengalir juga tidak besar.

“Kali tidak terlalu lebar dan baru kali ini terjadi banjir besar,” sebut salah satu sumber.

Menurut sumber yang sama, saat kejadian, korban berada di rumah kakek nekeknya (Hendrikus Gata dan Klara Fono) yang beralamat di RT 012 Dusun Malapedho C, Desa Inerie. Sedangkan orangtuanya tinggal di Waewaru, Kelurahan Foa Kecamatan Aimere, kampung halaman ibu korban. Korban ditemukan tidak jauh dari rumah kakek dan neneknya dalam keadaan sudah tak bernyawa dengan badan penuh lumpur.

“Saat kejadian om Endi Gata (kakek korban) pergi menghadiri acara 40 malam (acara syukur atas peristiwa duka) di Sebowuli (desa tetangga). Korban tinggal dengan omanya,” sebut sumber itu.

Ditanya lebih lanjut seputar kabar pasangan suami istri yang diduga ikut menjadi korban bencana, sumber itu mengaku sempat mendengar kabar tersebut.

“Iya ada pasangan suami istri yang dikabarkan hilang. Yang perempuan namanya Ita. Dia sedang hamil. Sedangkan pasangannya, saya tidak tahu nama. Tapi apakah mereka juga jadi korban, kami belum dapat kabar pasti karena di sini listrik padam sehingga akses komunikasi terganggu,” ungkapnya.

Baca Juga:  Membuat Biopori sebagai Solusi Mengatasi Banjir dan Pelestarian Air Tanah

(rnc09)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed