oleh

Frans Go: Bangun NTT Tak Mesti jadi Gubernur

Kupang, RNC – Masa pemerintahan pasangan Viktor Bungtilu Laiskodat – Josep Nae Soi sebagai gubernur dan wakil gubernur NTT, tinggal mengitung hari. Tiga nama diusulkan DPRD NTT yakni, Irjen Rudolf Albert Rodja, Inosentius Samsul, dan Thomas Umbu Pati, sebagai penjabat yang akan mengisi kekosongan selama setahun ke depan.

Mencermati hal ini, Direktur Yayasan Felix Maria Go (YFMG), Fransiscus Go yang dimintai pandangannya mengatakan, untuk membangun Nusa Tenggara Timur dari berbagai aspek, tidak perlu menjadi seorang gubernur. Putra Timor yang menggandeng Lippo Group masuk NTT itu menandaskan, ke depan, dibutuhkan pemimpin yang mengedepankan pembangunan ekonomi rakyat, membuka lapangan kerja dan peduli pada kemajuan pendidikan. “Untuk saat ini, diperlukan usaha – usaha menengah hingga skala besar yang berbasis lingkungan hidup, dan pemberdayaan sosial sehingga berimpact positif bagi masyarakat NTT,” ujar Frans Go yang sukses berbisnis di Jakarta.

Menurutnya, kekuatan membangun NTT tidak terletak pada satu orang saja, melainkan sumbangsih pemikiran, gagasan, ide serta talenta yang dimiliki semua masyarakat NTT, sangat dibutuhkan. Peran investor dari luar NTT juga diperlukan. “Mari kita bangun NTT melalui peran dan talenta yang kita miliki. Tak perlu menjadi seorang gubernur, jika memang kita punya niat membangun Flobamora tercinta,” ujar Frans Go kepada RakyatNTT.com, Rabu (30/8/2023), melalui layanan WhatsApp miliknya.

Dikatakannya, NTT yang sudah jauh tertinggal dari provinsi lainnya, baik di bidang pendidikan, infrastruktur, ekonomi dan kesejahteraan, butuh pemimpin yang visioner dan dan berjiwa teknokrat. “Tentunya dalam memimpin diperlukan ketulusan, sisi kemanusiaan dan keterpanggilan, sehingga misi membawa NTT lebih baik ke depan, bisa diwujudkan,” imbuh Frans Go yang sangat concern pada pendidikan, terutama pendidikan vokasi di daerah – daerah perbatasan.

Baca Juga:  Ditanya Kiat Bangun NTT, Frans Go: Tak Harus jadi Gubernur

Di lain sisi, lanjutnya, mendorong pendidikan vokasi sangat diperlukan. Mengingat, kemajuan teknologi di berbagai bidang membutuhkan skill tanpa harus menempuh jalur pendidikan formal. “Kemajuan di bidang teknologi saat ini, mengharuskan anak NTT dibekali berbagai keahlian atau skill. Melalui pendidikan vokasi, setidaknya mereka bisa mandiri bertahan hidup. Ini juga sebagai upaya, agar mereka bisa tetap bekerja di NTT, tanpa harus bekerja di luar NTT. Langkah ini juga mendukung kebijakan pemerintah terkait TPPO,” pungkas Frans Go, penulis dan pemerhati kebijakan pemberdayaan tenaga kerja. (robert kadang)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *