oleh

Jadi Tersangka, Eks Pengacara Nikita Mirzani Hari Ini Tiba di Kupang

Iklan Covid Walikota Kupang

Kupang, RNC – Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT, Kamis kemarin (14/1/2021) menetapkan 16 orang tersangka dalam kasus jual beli aset tanah di Labuan Bajo milik Pemkab Manggarai Barat (Mabar).

Salah satu tersangka dalam kasus ini yakni Muhammad Achyar, seorang pengacara asal Mabar yang menetap di Jakarta. Pada Desember 2015 silam, Achyar pernah mendampingi Nikita Mirzani ketika artis penuh kontroversi itu terseret kasus prostitusi bersama model sekaligus finalis Miss Indonesia 2014, Puty Revita.

Iklan Dimonium Air

Pasca ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus jual beli aset Pemkab Mabar, tim penyidik Kejati NTT yang berangkat ke Jakarta langsung melakukan penahanan terhadap Achyar. Sembari menunggu jadwal keberangkatan ke Kupang, Achyar dititipkan di Rutan Salemba Jakarta.

“Penahanan para tersangka dilakukan di tiga tempat. 10 orang di Labuan Bajo, 2 orang di Kupang dan 1 orang (Muhammad Achyar, red) di Jakarta, dimana besok dia akan dibawa ke Kupang menggunakan pesawat Batik,” sebut Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) NTT, Dr. Yulianto dalam konferensi pers kemarin sore.

BACA JUGA: Kejati NTT Tetapkan 16 Tersangka, 13 Sudah Ditahan

Terkait keterlibatan Muhammad Achyar dalam kasus ini, Kajati sendiri belum membeberkannya secara detail. Namun dalam hak jawab Gories Mere yang dikirim tim kuasa hukumnya kepada sejumlah media massa, pada poin ke-3 sampai poin ke-5 diuraikan dengan jelas peranan Muhammad Achyar.

Pada poin ke-4 disebutkan, pembelian tanah yang pernah Gories Mere lakukan adalah pada tahun 2017 dari Muhammad Achyar S.H seluas 2.000 m2 (0,2 Ha) dan Gabriel Mahal S.H seluas 2.000 m2 (0,2 Ha), total 4.000 m2 (0,4 Ha), yang menurut Muhammad Achyar S.H, tanah tersebut adalah milik Muhammad Achyar S.H., dan Gabriel Mahal, SH yang mereka beli dari ahli waris Abdullah Tengku Daeng Malewa. Selanjutnya Muhammad Achyar S.H menawarkan lagi tanah milik ahli waris Abdullah Tengku Daeng Malewa seluas kurang lebih 3 Ha.

Selanjutnya pada poin ke-5 dan ke-6 disebutkan, untuk kesungguhan transaksi tersebut, Gories Mere setuju untuk menyerahkan uang muka kepada Muhammad Achyar S.H, dengan catatan transaksi baru akan terjadi setelah status tanah telah lengkap memiliki Sertifikat Hak Milik. Akan tetapi, karena Sertifikat Hak Milik tidak kunjung terbit sampai dengan tahun 2018, maka transaksi pembelian tersebut telah dibatalkan pada tahun 2018. (rnc09)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed