oleh

Kreatif, dengan Alat Sederhana Nelayan Ini Tangkap Ribuan Benih Bandeng

Iklan Covid Walikota Kupang

Mbay, RNC – Nener merupakan benih ikan bandeng yang baru ditetaskan dengan panjang badan antara 10-30 mm. Nener ini ditangkap dengan menggunakan alat sederhana. Alat dorong nener adalah perangkap nener yang terbuat dari jaring (jaring dari kelambu).

Alat dorong sederhana ini digunakan sebagai perangkap nener dengan cara ditenggelamkan di laut yang dianggap strategis sebagai tempat bernaung nener.

Iklan Dimonium Air

Seorang nelayan di Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, biasa mencari bibit bandeng (Nener) di pesisir Pantai Nangadhero.

Nelayan ini bernama Yoakim Betu, 62 tahun. Ia mengaku sudah bekerja sebagai nelayan sejak 5 tahun lalu. Yang diburu Yoakim yakni nener bandeng.

Pagi hari, Yoakim terlihat sumringah sambil membawa alat sederhana serta jaring dan ember-ember miliknya. Ada kantong berupa plastik yang sudah dijahit rapi itu tampak membawa ratusan ekor berisi nener bandeng.

Yoakim menangkap nener bandeng menggunakan jaring segitiga yang dibuat sedemikian rupa dengan jaring yang berukuran kecil. Kemudian pada sisi kiri dan kanan dipasang bambu dengan panjang 3 meter. Dan kantong plastik yang dijahit dari plastik terpal sebagai wadah nener bandeng hasil tangkapan.

Cara menggunakan alat sederhana ini ternyata tidak rumit. Cukup dorong ke depan. Gerakkan pelan dan tidak terburu-buru agar nener bandeng masuk ke dalam kantong plastik.

Setelah berjam-jam di pesisir pantai Nangadhero, Yoakim membawa hasil tangkapan itu dengan cara dipikul menuju tepi pantai. Pria delapan anak ini tampak ceria saat melihat hasil tangkapannya itu. “Mau mengeluh siapa yang mau bantu? Untuk sakit saya jarang. Mau tidak mau cari sendiri untuk biaya anak sekolah, kebutuhan di rumah,” ujar bapak 8 anak ini.

BACA JUGA: Salut, Siswi Ini Rela Jualan Kangkung untuk Bantu Sembuhkan Ibunya yang Sakit

Yoakim mengaku tiap hari mencari nener bandeng untuk kebutuhan ekonominya. “Saya biasanya dari pagi sampai sore. Kalau nenernya tidak ada, saya biasanya istrahat di rumah. Malam keluar dengan Nelayan lain untuk mancing. Hasil dari memancing, puji Tuhan saya bisa beli beras,” ujarnya.

“Kalau musimnya begini, dalam satu hari saya biasa dapat 1.000 ekor nener bandeng,” tambah Yoakim.

Kedua mata Yoakim sangat teliti melihat dan memilah nener dan ikan kecil lainnya yang berukuran menyerupai warna air laut itu.

Yoakim mengaku dirinya tidak merasa capek ataupun mengeluh untuk pekerjaan yang ia geluti sekarang ini. Yoakim menceritakan bahwa untuk mendapatkan bibit bandeng (nener) butuh kesabaran.

Modalnya adalah alat sederhana yang terbuat dari bambu, jaring 3 meter dan botol air mineral sebagai pelampung sebagai alat tangkapnya. Di samping itu, tersedia beberapa ember berisi air sebagai wadah untuk menampung bibit bandeng. Selanjutnya Yoakim memindahkan dan menyalin bibit bandeng.

“Nanti tiga hari dulu baru bisa hitung. Kalau saat tangkap begini bibit bandeng sulit dihitung. Ada pelanggan yang pesan. Per ekornya saya jual dengan harga 100 rupiah,” ungkapnya.
(rnc15)

  • 283
    Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed