oleh

Merayakan Natal dengan Riang Gembira, Tanpa Kontroversi

Oleh Feliks Tans

Dosen FKIP/Program Pascasarjana Undana, Kupang

 

TANGGAL 25 Desember, kita tahu, adalah Hari Raya Natal. Hari peringatan kelahiran Yesus. Sebuah hari yang patut dan, bahkan, harus dirayakan secara riang gembira oleh setiap orang yang berkehendak baik. Dalam perayaan yang penuh dengan suka cita itu, sejatinya, tidak ada kontroversi di antara kita. Ya kita, saya dan Anda, pembaca. Apapun suku, agama, ras, dan golongan kita. Persoalannya adalah mengapa Natal dirayakan secara riang gembira, tanpa kontroversi, oleh semua orang.

Jawaban saya atas persoalan tersebut ini: karena Natal membawa pesan kasih terhadap sesama yang berlaku secara universal. Berterima, secara sadar atau tidak, lintas zaman. Lintas generasi. Semua orang, apapun suku, agama, dan golongannya, menerimanya dan berupaya untuk mempraktikkannya dalam kehidupannya sehari-hari, walaupun sering gagal.
Ucapan “Sang Bayi Natal” ketika dewasa seperti, jika pipi kananmu ditempeleng orang, kasih jugalah pipi kirimu untuk ditempeleng. Artinya, menurut Dia, kita, siapapun, tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan.

Sebuah pesan kasih yang berlaku secara universal, bukan? Juga soal kesabaran dan kerendahan hati serta keteguhan hati untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ini terlihat, misalnya, ketika Dia ditempeleng di depan pengadilan yang, menurut banyak orang, tidak adil sama sekali. Dia hanya mengatakan ini: Jika apa yang Aku katakan salah, katakan apa salahnya. Namun jika benar, mengapa engkau memukul Aku?
Atau ini.

Kita, menurut Yesus, tidak boleh mengadili sesama sesuka kita, secara subjektif, karena kita juga sama tidak sempurnanya dengan orang yang kita adili. Terhadap massa yang mengamuk dan menuntut perajaman batu sampai mati seorang perempuan yang, menurut massa, patut dirajam hingga mati karena kesalahannya, Yesus hanya mengatakan ini: barang siapa yang tidak bersalah di antara kamu, hendaklah dia melemparkan batu pertama untuk merajam orang ini. Tak seorang pun kemudian merajam perempuan itu karena sadar bahwa mereka tidak lebih baik daripadanya.

Sayangnya, hukum kasih yang begitu mulia itu sering tidak mampu kita praktikkan secara taat azas dalam hidup ini. Di Rusia dan Ukraina, misalnya, hukum kasih itu kandas. Di Israel dan Palestina apalagi. Juga di Papua. Juga di sekitar kita. Di banyak tempat. Banyak orang, termasuk negara dan organisasi tertentu, masih saja suka bunuh-membunuh. Hukum mata ganti mata dan gigi ganti gigi, bahkan, tidak hanya tetap berlaku, tetapi juga berlaku secara jauh lebih kejam: mata ganti 1001 mata; gigi ganti 1001 gigi. Bahkan lebih. Bahkan terhadap perempuan, anak-anak, dan orang tua yang tak berdaya, yang tidak bersalah sama sekali.

Walaupun sering gagal dalam menerapkannya dalam hidup kita masing-masing, minimal kini kita paham bahwa itu, menurut hukum kasih yang diperkenalkan oleh Yesus yang hari lahir-Nya kita rayakan pada setiap tanggal 25 Desember itu, salah. Salah besar. Morally wrong. Kesadaran itu memberi kita harapan bahwa semuanya akan membaik berkat hukum kasih itu.

Dengan kata lain, terlepas dari kenyataan bahwa kita sering melanggarnya secara berulang-ulang, hukum kasih itu telah, sedang, dan akan selalu membawa kebaikan bagi semua. Kini dan esok. Sampai kapanpun. Harapan itulah yang, antara lain, membuat kita, sejatinya, selalu merasa riang dan gembira dalam menyambut Natal, apapun suku, agama, ras, dan golongan kita seperti yang saya sampaikan di atas.

Dengan demikian, perayaan Natal akan menjadi lebih semarak jika dirayakan dalam konteks kasih itu. Itu, saya pikir, sudah dilakukan secara konsisten oleh mereka yang percaya bahwa kedatangan Yesus itu memang membawa kasih bagi semua. Bingkisan Natal untuk anak yatim piatu, orang miskin dan terlantar, misalnya, menjadi hal yang sudah biasa selama ini. Telah membudaya.

Juga aksi kasih dalam senyap dari setiap orang yang memang mempraktikkan hukum kasih itu dalam hidupnya sehari-hari. Setiap saat. Bukan hanya pada saat Natal. Kita masih ingat, misalnya, cerita tentang Mother Theresa dari Kalkuta, India. Ketika seorang pengemis meminta uang, Mother Theresa, orang kudus itu, tanpa ragu-ragu sedikitpun memberikan kepada si pengemis uang senilai kurang lebih 50 ribu rupiah yang ada padanya saat itu.

Dia tidak lagi memikirkan dirinya sendiri. Dia memberikan semua uang yang dimilikinya kepada pengemis itu. Bagi Mother Theresa yang mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, pengemis itu adalah Yesus yang kelihatan seperti yang dikatakan oleh Yesus sendiri: apa yang kamu lakukan terhadap orang kecil-hina-dina, itu kamu lakukan terhadap Aku. Masuklah dalam Kerajaan-Ku! Sebab saat Aku lapar, kamu memberikan Aku makanan. Saat Aku telanjang kamu beri Aku pakaian. Saat Aku di rumah sakit, kamu mengunjungi Aku.

Adakah kontroversi dari pesan kasih seperti itu? Sejatinya tidak ada, jika kita menghargai secara tulus setiap sudut pandang, termasuk iman, setiap orang pada setiap zaman terkait Yesus. Jika Anda menghargai, misalnya, iman orang seperti saya bahwa Yesus itu 100% Tuhan dan 100% manusia, persoalan selesai, bukan? Juga jika Anda menghargai, misalnya, pandangan orang bahwa Yesus bukan Tuhan; Dia “hanya” seorang nabi. Juga pandangan orang yang lebih ekstrim bahwa Dia penghujat Allah yang layak dihukum mati. Layak disalipkan. Dan masih banyak lagi pandangan lain tentang Dia yang, tentu, tidak bisa diuraikan satu per satu di sini.

Ketika semua itu dihargai, walaupun tidak diterima, kontroversi segera selesai. Jadi, bagaimana cara kita menghadapai pandangan yang beragam tentang Yesus itu sehingga tidak menimbulkan kontroversi yang, pada gilirannya, membuat kita antinatal? Sederhana saja. Caranya begini: lupakan pandangan yang berbeda tentang Yesus itu. Ambil saja ajaran kasih-Nya yang universal, yang saya sampaikan di atas, dan kita praktikkan itu dalam hidup kita sehari-hari sebisa kita.

Dengan cara itu, Natal pun dapat dirayakan dengan penuh suka cita oleh Anda, seperti saya, yang percaya Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat, Savior. Juga oleh Anda yang melihat-Nya “hanya” sebagai nabi atau sebagai manusia dengan karakter yang luar biasa saja. Atau oleh Anda yang melihat-Nya, bahkan, sebagai “bidaah”, sejatinya, masih punya ruang untuk merayakan Natal dengan gembira-ria karena ajaran kasih-Nya yang berlaku secara universal itu.

Adakah yang mengatakan bahwa hukum kasih itu buruk? Tidak ada, bukan? Dalam konteks itulah, saya kira, kita sepakat, kita, siapapun kita, apapun pandangan kita tentang Yesus, kita semua tetap punya ruang untuk merayakan Natal dengan penuh suka cita. Tanpa kontroversi, jika kita melihat-Nya melalui hukum kasih yang dibawa-Nya ke bumi ini sejak 2023 tahun yang lalu via kelahiran-Nya di kandang sederhana di Kota Betlehem itu. (*)

Dapatkan update informasi setiap hari dari RakyatNTT.com dengan mendownload Apps https://rakyatntt.com

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *