oleh

Ribuan Ekor Babi di Nagekeo Mati akibat Virus ASF

Iklan Covid Walikota Kupang

Mbay, RNC – Ribuan ekor ternak babi milik warga di Kabupaten Nagekeo mati akibat terjangkit virus mematikan yakni ASF.

“Untuk Kabupaten Nagekeo sejak tahun 2020 sampai saat ini telah terdata 3.217 kematian ternak babi akibat ASF. Terbanyak di Kecamatan Aesesa, menyusul Kecamatan Wolowae,” demikian disampaikan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nagekeo, Klementina Dawo, Rabu (6/1/2021).

Iklan Dimonium Air

Ia menjelaskan penyebaran virus babi tersebut terjadi akibat kurangnya pemahaman masyarakat akan bio security kandang. “Banyak sekali bangkai babi yang dibuang di sembarang tempat. Lalu bangkai tersebut kemudian dihinggapi lalat yang merupakan hewan penyebar ASF. Jika lalat tersebut hinggap di makanan atau di tubuh babi sehat, maka babi sehat tersebut akan terjangkit ASF,” katanya.

Klementina meminta masyarakat untuk wajib menguburkan atau membakar bangkai babi di tempat khusus yang telah disiapkan, sehingga dapat mencegah penyebaran ke ternak lain.

“Pentingnya bio security kandang dan kesehatan pakan perlu diperhatikan dengan baik. Kandang harus bersih dan memiliki sirkulasi udara dan cahaya yang baik. Sementara pakan harus sehat dan dipastikan tidak terkontaminasi ASF, yaitu tidak mengandung sisa olahan daging babi,” ujarnya.

BACA JUGA: Puluhan Ribu Babi di NTT Mati Diserang Virus ASF

Saat ini obat-obatan maupun vaksin pencegah ASF belum ada. Oleh karena itu, Dinas Peternakan gencar lakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang ASF. “Sosialisasi tentang ASF kepada masyarakat meliputi pencegahan melalui bio-security kandang dan pemberian pakan sehat. Kami juga memberikan edukasi tentang penanganan babi yang telah mati akibat ASF,” ungkapnya.

Lebih lanjut, untuk memastikan Kabupaten Nagekeo tetap memiliki ternak babi dan bibit ternak babi yang sehat, Dinas Peternakan melakukan lokalisasi ternak babi sehat dengan membangun compartemen. Sebelumnya di tahun 2020, lokalisasi sudah dilakukan di Desa Sawu dan Desa Raja. Untuk 2021, lokalisasi akan diadakan di tujuh kecamatan. Saat ini masih dalam tahap survey tempat untuk compartemen.

Klementina berharap agar masyarakat dapat mendukung upaya pencegahan penyebaran ASF serta mematuhi saran dari Dinas Peternakan.

“Soal biosecurity kandang, pakan maupun soal penanganan babi mati. Itu adalah upaya terbaik untuk dilakukan sambil menanti obat atau vaksin khusus,” tutupnya. (rnc15)

  • 403
    Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed