oleh

Simak Hasil Otopsi Arkin Anabira, Tahanan yang Tewas di Polsek Katikutana

Waikabubak, RNC – Hasil otopsi terhadap jenazah Arkin Anabira tahanan yang tewas di dalam tahanan Polsek Katikutana, Polres Sumba Barat dirilis Polres Sumba Barat, Senin (10/1/2022).

Otopsi terhadap jenazah dilakukan dokter forensik Polda NTT pada 14 Desember 2021 lalu di RSUD Waibakul, Kabupaten Sumba Tengah. Sementara itu, korban Arkin Anabira meninggal dunia dalam ruang tahanan Polsek Katikutana, Kamis (9/12/2021) setelah ditangkap oleh Tim Buser Polres Sumba Barat bersama anggota Polsek Katikutana.

Iklan Dimonium Air

Arkin Anabira ditangkap oleh Tim Buser Polres Sumba Barat bersama anggota Polsek Katikutana karena terlibat dalam kasus pencurian ternak dan penganiayaan berdasarkan laporan Polisi Nomor: LP/B/03/I/2021/SPKT/Polsek Urban Katikutana/Polres Sumba Barat/Polda NTT, tanggal 6 Januari 2021, dan LP Nomor: LP/B/57/VIII/2021/SPKT/Sek.KTN/Res. Sumba Barat/Polda NTT.

Sesuai dengan Surat Perintah Penangkapan Nomor: SP.KAP / 23 / XII / 2021 / SEK. KTN, Personel Polsek Katikutana yang terlibat dalam surat perintah penangkapan melakukan penangkapan terhadap tersangka Arkin.

Dalam konferensi pers yang digelar di Loby Pasola Mapolres Sumba Barat, Kapolres Sumba Barat AKBP FX Irwan Arianto mengakui adanya penganiayaan terhadap korban. Namun, menurut Kapolres, korban tewas bukan karena dianiaya.

Kapolres Sumba Barat AKBP FX Irwan Arianto memastikan bahwa Arkin meninggal di depan kamar mandi dalam sel Polsek Katikutana. “Memang benar, ada penganiayaan. Ini sesuai hasil visum dan otopsi serta pengakuan 4 anggota kami yang saat itu menganiaya Arkin,” ujar Kapolres Sumba Barat, Senin (10/1/2022).

Arkin diduga terpeleset di depan kamar mandi dalam sel dan kepala terbentur di tiang. “Penyebab kematian bukan karena penganiayaan tetapi karena benturan anggota tubuh dan sesak pernafasan,” kata Kapolres Sumba Barat.

Kapolres Sumba Barat mengatakan kalau ditemukan ada luka di kepala karena korban terbentur di sel waktu terjatuh dan saat ditemukan korban tidak memakai celana.

Baca Juga:  Palsukan Surat Pencairan Beasiswa, Kepala SMA Sinar Pancasila Kupang Ditahan Kejari

Menurut ahli forensik dari Biddokkes Polda NTT, dr. Edy Syahputra Hasibuan, SpF., visum dan otopsi dilakukan selama 2 jam di RSUD Waibakul, Kabupaten Sumba Tengah. Pada saat pemeriksaan terjadi proses pembusukan jenazah.
Dari hasil visum luar ada luka memar dan lecet. “Kepala memar dan ada luka robek karena orang (korban) mendatangi benda bukan benda yang mendatangi korban,” imbuhnya.

Selain itu, ditemukan memar pada perut dan lengan, kaki dan pipi. Ujung kuku juga kebiruan karena kekurangan suplai oksigen.

Saat dilakukan otopsi ditemukan adanya sisa makanan di mulut bercampur ludah. Makanan juga ditemukan dalam perut. “Dipastikan, sebelum kejadian, korban makan banyak dan saat kejadian (terjatuh di depan kamar mandi), dia muntah. Korban jatuh jadi muntah-muntah,” tambahnya.

Otopsi juga menemukan sisa makanan dalam mulut yang masuk ke paru-paru. “Penyebab kematian bukan karena penganiayaan tetapi karena kekurangan oksigen. Meninggal dunia karena gangguan pernafasan akibat sumbatan jalan nafas oleh sisa makanan yang keluar dari lambung akibat muntahan korban,” tegasnya.

Dokter Edy Hasibuan menegaskan tidak ada luka tembak pada korban Arkin dan tidak ada tulang yang patah. “Tidak ada tulang yang patah dan bekas tembakan. Penyebabnya karena kekurangan suplai oksigen karena terhambat makanan. Makan banyak sehingga makanan masuk dalam paru-paru,” terang dokter Edy Hasibuan.

Dokter Edy Hasibuan mengatakan ada kekerasan tumpul pada korban, namun penyebab kematian bukan karena penganiayaan.

Menanggapi penjelasan ahli forensik dari Bid Dokkes Polda NTT dan penjelasan Kapolres, penasehat hukum Arkin, Semianda Umbu Kabalu, SH, berterima kasih kepada Polda NTT dan Polres Sumba Barat atas penanganan kasus ini.

“Hasil otopsi yang sudah kami terima menjadi bukti otentik dan kami akan menyampaikan hasilnya ke keluarga,” ujarnya. Ia juga meminta Kapolres Sumba Barat agar menyampaikan perkembangan penanganan kasus ini.

Baca Juga:  Ngeri! Wanita di Bekasi Tewas Dibunuh Teman Sendiri

Mewakili keluarga korban, Semianda mengapresiasi kepolisian karena cepat dan tanggap menangani kasus yang ada sebab kematian korban sudah terjawab. Semianda berharap proses pidana kepada para pelaku terus dilakukan sehingga ada kejelasan hukum.

(rnc26)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed