oleh

Mengenal Keindahan Alam Stalagmit Petak Sawah di Gua Liang Woja, Manggarai

Iklan Covid Walikota Kupang

Ruteng, RNC – Pulau Flores, Provinsi NTT dianugerahi sang pencipta dengan keindahan alam yang luar biasa.
Salah satunya adalah Gua “Liang Woja” yang terletak di Desa Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai.

Jika hendak ke sana harus menempuh perjalanan dengan jarak kurang lebih 40 km dari Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai.

Iklan Dimonium Air

Hanya membutuhkan waktu 45 menit jika menggunakan sepeda motor. Atau kurang lebih 1 jam jika menggunakan kendaraan roda empat.

Melewati jalan negara dari Ruteng ke Pagal, ibukota Kecamatan Cibal. Selanjutnya dari Pagal menuju Golo, Desa Golo. Tepat di lokasi terdekat Gua.

Gua Liang Woja memang berada di wilayah Desa Barang. Namun akses masuk yang mudah dan cepat terdapat di Kampung Golo, Desa Golo.

Saat tiba di Golo, anda hanya butuh waktu 10 menit menapaki jalan setapak dengan jarak kurang lebih 100 meter. Selanjutnya, menyeberangi sungai Wae Kebong.  Setelah lewati sungai, anda langsung mendapati pintu masuk Gua Liang Woja.

Di dalam Gua Liang Woja, anda akan menyaksikan berbagai bentuk stalagmit dan stalaktit yang begitu menawan. Ada kristal dengan cahaya berkilauan di kegelapan. Merasakan hawa yang sejuk. Dan yang paling Istimewa adalah keberadaan stalagmit yang menyerupai petak sawah.

Berikut ini merupakan keindahan alam yang akan Anda nikmati jika berkunjung di Gua Liang Woja.

Pertama; terdapat dua pintu masuk. Gua Liang Woja memiliki luas sekitar 50 sampai 60 meter persegi. Saat hendak masuk ke dalam gua, terdapat dua pintu utama yang bisa dilalui. Pintu tersebut ada di bagian barat dan bagian timur gua. Namun yang paling sering dilalui pengunjung adalah pintu masuk bagian bagian barat. Pada pintu bagian barat itu, sudah didesain anak tangga yang terbuat dari campuran batu, pasir dan semen. Anda bisa dengan mudah turun dan masuk ke dalam gua.

Di ruangan pertama masih ditembusi sinar mentari. Oleh warga sekitar, dalam ruangan tersebut telah dibuat sebuah altar. Di altar itu ditempatkan sebuah arca atau patung Bunda Maria.

Baca Juga:  Rayakan Idul Adha, Pemda Manggarai Salurkan Hewan Kurban dan Beras untuk Umat Muslim

Namun, ketika menengok di sekeliling ruangan dengan luas sekitar 20 meter persegi itu, anda akan melihat ada empat lorong masuk. Lorong tersebut nampak gelap dan tak ditembusi cahaya mentari.

Kedua, memiliki empat lorong di dalam gua. Di dalam Gua Liang Woja terdapat empat lorong. Dari empat lorong tersebut, ada tiga lorong yang bisa dijajaki. Sementara satu lorong lainya tidak bisa dimasuki. Pada tiga lorong itu anda bisa jalan dengan santai.

Setiap lorong di dalamnya memiliki ruangan dengan ukuran sekitar 10-15 meter persegi. Di sana anda akan menikmati hawa sejuk dan segar alami.

Namun saat anda perlu alat penerang. Sebab dalam lorong dengan jarak masuk sekitar 30 sampai 40 meter itu, tak ada lagi cahaya mentari. Tangan boleh meraba sisi kiri dan kanan. Mata sedikit memandang langit gua. Ada stalaktit dan stalagmit dipenuhi kristal dengan cahaya yang berkilauan.

Ketiga, terdapat satu lorong masuk dengan jarak 7 km.
Menurut Andy Paju, seorang warga asal Golo, satu dari 4 lorong dalam gua memiliki jarak masuk yang cukup jauh sekitar 7 km.

Dahulu lorong tersebut sering dimasuki warga. Bahkan lorong itu digunakan sebagai jalan pintas dari kampung Golo, menuju kampung Barang. “Tapi sekarang sudah tidak ada lagi yang berani masuk. Ada kemunkinan lorong tersebut telah tertutupi stalagmit dan stalaktit,” kata Andy Paju.

Selain itu, kata dia, warga juga takut jika di dalam lorong itu ada binatang buas atau ular berbisa.

Meski demikian dari luar pintu lorong tersebut bisa dipandangi. Disenter dengan cahaya. Terlihat lubang kecil masuk yang jauh. Sama dengan yang lain. Penuh stalagmit dan stalaktit dengan kilauan cahaya kristal.

Keempat, terdapat tetesan embun dari atap gua. Pada stalaktit yang tumbuh dari langit gua Liang Woja muncul tetesan embun. Embun tersebut terasa dingin. Bahkan lebih dingin dari embun pagi. Seperti butiran salju tepatnya. Embun tersebut tetes teratur. Sekali dalam 2 menit jatuh dan membasahi lantai gua.

Baca Juga:  Praktisi Hukum Minta Bupati Manggarai Tindak Pengusaha yang Langgar UU

Kelima, terdapat stalagmit berbentuk petak sawah. Pada salah satu ruangan di dalam Gua Liang Woja, anda akan melihat stalagmit persis menyerupai petak sawah. Petak itu berbaris miring dengan dengan rapih. Barisanya mirip spiderice atau sawah lodok yang ada di Cancar, Kecamatan Ruteng.

Sedangkan, di tepi atas sawah terdapat stalagmit menyerupai saluran irigasi. Saluran tersebut seperti terbuat untuk mengaliri air ke sawah.

Di sekitar stalagmit sawah, terdapat beberapa tumpukan debu tanah berwarna hitam. Menyerupai tepung kopi. Saat disentuh, tumpukan tepung kopi tersebut terasa dingin namun kering tak tersentuh embun.

Selain itu, ada juga tumpukan debu seperti pasir halus warna putih meyerupai pupuk. Keberadaan mini spiderice tersebut membuat Gua Liang Woja memiliki daya tarik tersendiri dan berbeda. Keunikan itu membuatnya lebih istimewa dari kebanyakan gua yang ada di Manggarai.

Menurut warga sekitar keberadaan stalagmit yang menyerupai sawah itulah yang membuat nenek moyang mereka dahulu menyebut gua itu dengan nama Liang Woja.

“Dalam bahasa Manggarai, Liang artinya Gua sedangkan Woja artinya padi. Sementara padi umumnya tanam di sawah. Jadi ada keterkaitan antara petak sawah dan padi sehingga munculah nama Liang Woja,” kata Andy Paju.

Dengan demikian, terminologi Liang Woja bisa diartikan sebuah Gua yang di dalamnya memiliki stalagmit menyerupai atau berbentuk petak sawah.

Keenam, ruangan besar dijadikan tempat ibadat. Di ruangan utama gua atau ruangan yang pertama anda temui saat masuk, terdapat rancangan bambu. Rancangan tersebut dibuat berbentuk bangku oleh warga sekitar. Bangku itu digunakan sebagai tempat untuk duduk saat hendak beribadat.

Menurut Andy Paju, sebelum memiliki Kapela, dahulu umat Katolik kampung Golo menggunakan ruang di Gua Liang Woja sebagai tempat untuk melaksanakan ibadat. Terutama saat ibadat sabda setiap hari Minggu.

Baca Juga:  Hingga Bulan Juli, Banyak Nakes di Manggarai Belum Terima Insentif

“Sekarang karena telah memiliki kapela, ruangan di Gua Liang Woja hanya digunakan untuk beribadat pada saat pembukaan dan penutupan bulan Santa Maria,” kata Andy.

Ketujuh, berdekatan dengan sungai. Di dekat Gua Liang Woja, anda akan menemui aliran air sungai yang dipenuhi batu-batu besar. Namanya Wae Kebong. Airnya begitu jernih dan segar.

Menariknya, ada juga beberapa kolam kecil di bawah pancuran sungai itu. Kolam tersebut terbentuk secara alami. Jika sebelum masuk atau saat keluar dari gua Anda merasa gerah, boleh singgah sebentar untuk mandi. Sekali terjun dijamin segar.

Anda tak perlu khawatir. Sungai tersebut sangat bersih. Jernih dan alami tanpa sampah atau pun limbah pabrik.
Selain itu, terdengar pula suara burung yang terus-menerus bersiul merdu. Burung tersebut berloncat-loncatan di pepohonan yang rindang. Suasana alam akan terasa begitu nyata.

Kedelapan, ada pemandangan persawahan warga. Di jalan setapak sebelum sampai di gua, ada keindahan lain yang anda jumpai. Keindahan itu ialah menyaksikan padi yang menghijau di persawahan warga. Persawahan itu juga mirik spiderice atau sawah lodok.

Saat anda melihat ke timur, utara dan barat, mata anda dimanjakan dengan indahnya barisan perbukitan. Tampak juga di kejauhan hiasan cahaya genteng rumah warga dari perkampungan di lereng gunung. Panorama alam tersebut bakal membuat Anda ingin bertahan lebih lama.

Itulah gambaran keindahan alam yang anda jumpai saat berada di Gua Liang Woja. Jika penasaran silakan berkunjung. Dijamin tidak menyesal dan tidak mengecewakan. Apalagi, saat ini untuk masuk gua Liang Woja masih gratis. Anda perlu mempersiapkan bekal alat penerangan yang baik.

Gua Liang Woja bisa menjadi rekomandasi yang cocok untuk berwisata bersama keluarga dan sahabat. (rnc23)

  • 118
    Shares

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed