oleh

Meraup ‘Cuan’ di Tengah Kesulitan Ekonomi NTT

Kupang, RNC – Jangan pernah menyerah! Di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit akibat pengaruh global yang tak menentu, masyarakat NTT diminta tak mudah menyerah dengan kondisi yang ada. Apalagi, musim kemarau panjang mengakibatkan banyak tanaman pangan yang mati. Kondisi ini tentu memperburuk ekonomi masyarakat NTT.

Menurut pakar Pertanian Agronomi dan Hortikultura, Dr. Ir. H. Zainal Arifin, M.P., yang juga dosen Politani Negeri Kupang, situasi ini tidak perlu disesali. Namun sebaliknya, tetap harus disyukuri. Pasalnya, kata ketua Kelompok Tani “Kampung Daun” itu, lahan kering bukannya tanpa solusi. “Ada begitu banyak tanaman hortikultura yang bisa ditanam di lahan kering. Contohnya, cabe, sukun, nangka, pisang, pepaya, jeruk keprok SoE dan alpukat mentega. Hanya dengan sedikit penggunaan air, tanaman – tanaman hortikultura itu bisa tetap hidup dan bertahan di lahan kering. Itu yang saya kembangkan tiap tahun, setiap kali masuk musim kemarau,” ujar Zainal.

“Kita tidak bisa menyerah dengan kondisi yang ada. Saya justru berterima kasih hidup di NTT, karena NTT memiliki banyak potensi. Ya mataharinya, serta sumber perikanan kelautan yang melimpah. Cuma pemanfaatan lahan kering kita yang belum optimal,” tandasnya.

Ia mengatakan sangat setuju dan senang dengan cara pikir Fransiscus Go, yang meminta pemerintah, hotel dan lembaga lainnya, memanfaatkan pangan dan produk lokal untuk mengatasi krisis ekonomi yang sementara melanda Indonesia, termasuk NTT. Dengan memberdayakan pangan dan produk lokal NTT, setidaknya mengurangi ketergantungan terhadap produk luar, sehingga uang tetap berputar di masyarakat. Tidak keluar NTT.

Zainal yang merupakan anggota tim teknis pelaksana Dem Area Pangan sebagai Stok Cadang Pangan pada Badan Pangan Nasional RI, menambahkan, pemerintah tidak boleh “lepas tangan” dalam situasi seperti ini. Pendampingan kepada masyarakat, khususnya para petani, agar mereka bisa menggarap lahan kering dengan membuat kebun – kebun ketahanan pangan sampai ke desa-desa.

Baca Juga:  Galang Solidaritas Orang Muda, Frans Aba Daftar ke PSI

“Persiapan lahan, itu yang harus didahulukan. Kemudian masyarakat diberi bantuan bibit, lalu pemeliharaan hingga pengawasan. Upaya ini harus melibatkan lintas sektor. Harus keroyokan. Dinas Pertanian, Dinas Sosial, Dinas Pekerjaan Umum Bidang Pengairan, Dinas Koperasi, lalu Dinas Perdagangan untuk solusi pemasarannya. Jika tidak, jangan harap program ini berjalan baik,” kata Zainal.

Dia juga mengkritisi kebijakan pemerintah di bidang pembangunan pertanian, yang belum mereformasi peraturan atau kebijakan terkait nomenklatur penganggaran di bidang tersebut. “Pembangunan pertanian tidak bisa dibangun, jika tidak mereformasi peraturan atau kebijakan terkait nomenklatur penganggaran pembangunan pertanian. Tiap tahun, subsidi pupuk dan proyek pengadaan bibit lebih diutamakan, daripada persiapan lahan. Begitu pupuk dan bibit datang, petani bingung mau tanam dimana? Karena lahannya tidak disiapkan dulu,” sebut Zainal.

Sekedar tahu, dengan melibatkan masyarakat di Desa Baumata, Kabupaten Kupang, Zainal Arifin memberdayakan lahannya. Aneka buah-buahan ditanam lalu dipasarkan ke supermarket yang ada di Kota Kupang. Dia juga memelihara berbagai jenis ikan yang bisa langsung dibeli untuk dikonsumsi. “Jika benar kesulitan ekonomi sampai tahun depan, seperti yang disampaikan CEO GMT Institute, Pak Fransiscus Go, maka pemerintah NTT harus sigap dan terus berupaya untuk berinovasi dengan memperkuat ekonomi mikro. UMKM harus diberdayakan, dan kurangi ketergantungan pada produk luar,” pungkas Zainal Arifin. (rnc)

Editor: Robert Kadang

Dapatkan update informasi setiap hari dari RakyatNTT.com dengan mendownload Apps https://rakyatntt.com

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *