oleh

PDIP Belum Putuskan Calon di Ngada, Paket Hoki Terancam Bubar

Sabun Herbal Cyrus

Kupang, RNC – Konstelasi politik di Kabupaten Ngada jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kembali berubah. Sebelumnya, paket GUD – ATR (Gregorius Upi Dheo – Anis Tai Ruba) bubar di tengah jalan. Kini isu yang sama menyelimuti Paket Hoki (Helmut Waso – Kornelis Soi).

Paket Hoki terancam bubar karena hingga kini belum memenuhi syarat pencalonan melalui jalur partai. Pasalnya, satu-satunya partai yang sudah final mendukung Hoki yakni Perindo, belum bisa mengusung calon sendiri menjadi peserta Pilkada. Di DPRD Ngada, Perindo mendapatkan empat kursi, sehingga masih kurang satu kursi untuk memenuhi syarat pencalonan di Pilkada Ngada.

Selain Perindo, Hoki selama ini berharap mendapat dukungan dari PDI Perjuangan. Hal ini mengingat Kornelis Soi adalah kader PDIP. Namun, partai berlambang banteng moncong putih itu hingga kini belum menentukan dan memutuskan pasangan calon yang akan diusung untuk Pilkada Ngada.

Informasi yang diperoleh RakyatNTT.com dari berbagai sumber menyebutkan, Helmut Waso kemungkinan besar akan berpasangan dengan ATR atau kader PDIP yang lain. Sebab mayoritas dukungan di internal PDIP Ngada, sebelumnya lebih banyak mengarah kepada Paket GUD – ATR. Namun setelah GUD – ATR bubar, nama ATR kemudian didorong untuk mendampingi Helmut Waso.

Lantas seperti apa tanggapan Paket Hoki terkait kabar tak sedap ini? Saat diwawancara RakyatNTT.com via sambungan selular, Senin (13/7/2020), Helmut Waso mengatakan, Hoki belum bubar dan komunikasinya dengan Kornelis Soi masih terjalin dengan sangat baik. Namun, dia tak menampik adanya kemungkinan bongkar pasang calon sebelum Pilkada memasuki tahapan pendaftaran calon ke KPU. “Saya melihat satu bulan ke depan, kemungkinan bongkar pasang calon masih bisa terjadi. Sebab semuanya tergantung dinamika di masing-masing parpol,” sebut mantan Ketua DPRD Ngada ini.

Helmut menegaskan, dia bersama Kornelis Soi maju lewat jalur partai, bukan melalui jalur independen. Untuk itu, dia siap menerima risiko apabila ada dinamika atau perubahan dalam keputusan partai nantinya. “Sepanjang menunggu keputusan partai dengan dinamika yang terjadi di dalamnya, kita luwes dan tidak bisa kaku,” ujar Helmut.

Tokoh yang membesarkan Partai Perindo di Kabupaten Ngada itu menegaskan, paket Hoki bisa saja paten apabila Perindo punya minimal lima kursi di DPRD. Namun Perindo hanya punya empat kursi, sehingga harus berkoalisi dengan partai lain untuk memenuhi syarat pencalonan. “Satu-satunya partai yang saya daftar hanya PDIP. Dalam perjalanan, Nasdem sendiri yang bilang dukung Hoki. Tapi di tengah jalan, mereka tinggalkan kita dan mendukung incumbent. Jadi harapan saya satu-satunya saat ini ya di PDIP, partainya Pak Kornelis,” terang Helmut yang juga mantan Sekretaris DPC PAN Kabupaten Ngada.

Helmut mengaku, posisinya saat ini bagai buah simalakama. Di satu sisi, dia ingin tetap berpasangan dengan Kornelis Soi. Namun di sisi lain, dia tidak bisa bertahan dengan pilihannya itu, apabila kemudian partai memutuskan lain. “Kita boleh idealis mau pasangan dengan calon tertentu. Kalau partai tidak mau, ini yang jadi soal. Misalnya partai A mau usung saya jadi calon bupati, tapi dia minta wakilnya harus sesuai dengan hasil survei yang dia lakukan, maka saya harus luwes,” katanya.

Helmut menambahkan, seluruh kerja politik yang sudah dilaksanakan selama ini untuk menggalang dukungan masyarakat, bisa berakhir sia-sia apabila mereka kaku dengan keputusan partai. “Kalau tidak lentur, tentu kita tidak bisa masuk sampai ke KPU. Itu artinya kita good bye ramai-ramai dan sia-sia sudah perjuangan selama ini. Jadi saya ikuti saja dinamika dan semua hal yang sedang berproses di PDIP,” ungkap Helmut.

Setelah wawancara dengan Helmut Waso, RakyatNTT.com berusaha menghubungi Kornelis Soi. Namun mantan Wakil Ketua DPD PDIP NTT itu belum merespon panggilan via sambungan selular. (rnc09)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed